Jakarta, panjimas – Memilih jalan hidup adalah sebuah keputusan penting. Begitu pula dalam memilih berorganisasi. Bagi warga Muhammadiyah, ada alasan kuat yang melandasi pilihan mereka. Alasan itu terungkap dalam Baitul Arqam yang digelar Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Menganti, Gresik di Villa Padi Park, Pacet, Mojokerto, Sabtu (18/1/25).
Dalam suasana yang khidmat, Muhammad Taufiq, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Menganti, mengajak peserta untuk menyelami kembali makna bermuhammadiyah.
Meski materi disampaikan setelah salat Isya, waktu yang biasanya digunakan untuk beristirahat, semangat para peserta Baitul Arqam tak kendur. Di hadapan mereka, Taufiq melontarkan pertanyaan retoris, “Kenapa kita memilih Muhammadiyah?”
Pertanyaan itu dijawabnya dengan merujuk pada tujuh poin dalam Muqaddimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah. Taufiq kemudian menguraikan tiga di antaranya, dimulai dari esensi hidup manusia yang harus bertauhid.
“Setiap manusia harus bertauhid kepada Allah SWT,” tegasnya. Tauhid, menurut Taufiq, bukan sekadar hafalan, melainkan harus diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Allah harus menjadi pusat dari segala aktivitas. “Sudahkah kita mempraktikkan ini dalam kehidupan kita? Apakah setiap tindakan kita bersandar kepada Allah?” tanyanya kepada peserta.
Ia mencontohkan, ketika dilanda masalah, seperti utang yang jatuh tempo, siapakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran? Apakah orang yang memberi hutang, atau Allah? “Tauhid itu harus betul-betul kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Taufiq mengingatkan bahwa manusia tidak bisa mewujudkan semua keinginannya sendiri. Hanya Allah Yang Maha Kuasa. Tidak semua keinginan dikabulkan, karena apa yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah. Kunci hidup bahagia, menurutnya, adalah dengan selalu mengikuti ketetapan Allah. Semakin dekat dengan Allah, semakin besar rahmat yang akan tercurah.
“Jika dalam satu hari ini tidak ada penambahan ilmu yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, maka hidup tidak akan ada keberkahan. Karena jika kita selalu ingin dekat kepada Allah, maka berkah Allah akan turun,” ungkap Taufiq.
Bagi pimpinan Muhammadiyah, hidup bermasyarakat adalah keniscayaan. Mengisolasi diri hanya akan menyulitkan. Warga Muhammadiyah harus menjadi pelopor di lingkungannya, memberi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Mengapa Bermuhammadiyah? Muhammad Taufiq saat memberikan materi pada kegiatan Baitul Arqam PCA-PRA Kecamatan Menganti Gresik di Villa Padi Park Pacet, Mojokerto, Sabtu (18/1/25) (Tagar.co/Laili Uswatin)
Mengapa Bermuhammadiyah? Hidup Bermasyarakat, Menebar Rahmat
Poin kedua yang ditekankan Taufiq adalah pentingnya hidup bermasyarakat. Ia menyitir surat Al-Anbiya 107, ” Wama arsalnaka illa rahmatanlilalamin (Kami tidak mengutus engkau Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam).”
“Jika ingin hidup bahagia, maka kita harus menebarkan kebahagiaan dan kasih sayang kepada siapa pun di alam ini, baik itu manusia, tumbuhan, atau binatang. Itulah akhlak yang mulia,” kata Taufiq.
Bagi pimpinan Muhammadiyah, hidup bermasyarakat adalah keniscayaan. Mengisolasi diri hanya akan menyulitkan. Warga Muhammadiyah, lanjutnya, harus menjadi pelopor di lingkungannya, memberi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Taufiq menganalogikan pengurus Muhammadiyah dengan pengusaha yang harus peka membaca kebutuhan masyarakat. “Pengusaha itu memiliki karakter mampu membaca apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan kemampuan membaca itulah akhirnya lahir sebuah usaha, lahir sebuah produk,” jelasnya. Kemampuan membaca yang dimaksud adalah kepekaan terhadap apa yang dirasakan masyarakat.
Oleh karena itu, dalam membuat program, jangan hanya meniru. Apa yang dibutuhkan di suatu tempat, belum tentu dibutuhkan di tempat lain. “Masyarakat butuh apa, maka kita siapkan,” tegasnya.
Poin terakhir yang diangkat Taufiq adalah pentingnya menjadikan hukum Allah sebagai pedoman hidup. “Dalam hidup, manusia harus menggunakan hukum Allah. Jika melakukan sesuatu, maka selalu berpikir apakah Allah senang atau tidak, Allah ridha atau tidak,” tuturnya.
Dalam ber-Muhammadiyah, lanjutnya, kita diikat oleh aturan, anggaran dasar, visi, dan misi. Dengan demikian, meskipun berbeda-beda, tetap akan menjadi satu kesatuan.
Baitul Arqam ini menjadi momen refleksi bagi warga Muhammadiyah Menganti. Alasan-alasan yang dipaparkan Taufiq meneguhkan kembali pilihan mereka untuk ber-Muhammadiyah, jalan hidup yang berlandaskan tauhid, kemanusiaan, dan ketaatan pada hukum Allah.






