Jatim, panjimas – Kisah inspiratif datang dari pasangan Drs. Sampun Efendi (73) dan Lilik Khomariyati, S.Pd.SD (65). Aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah Tempeh, Lumajang, Jawa Timur ini memiliki semangat yang luar biasa untuk aktif dalam kegiatan perserikatan.
Peristiwa mengharukan terjadi pada Selasa (19/1/2025). Drs. Sampun Efendi yang merupakan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempeh, Lumajang, ini hendak menghadiri kegiatan dakwah di Masjid Baiturrahman Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Pulo.
Awalnya, dia bersama sang istri rencana menumpang mobil Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Besuk, Tempeh, Lumajang. Namun, karena mobil tersebut lupa menjemput, pasangan ini akhirnya memutuskan menggunakan sepeda motor untuk tetap hadir.
Meski mengalami keterbatasan fisik —sudah berusia senja- semangat berdakwah senantiasa menyala dalam diri mereka. Kondisi menjadi lebih berat ketika Drs. Sampun merasa masih trauma, akibat pernah mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.
Pak Sampun -sapaan akrabaya- masih merasa takut dan tidak mampu mengendarai sepeda motor sendiri. Maka dengan penuh cinta kasih, Lilik menggonceng suaminya menggunakan sepeda motor. Mereka pun menempuh perjalanan berdua menikmati keramaian jalan Lumajang untuk menghadiri acara perserikatan.
“Kami tidak ingin absen dari kegiatan Muhammadiyah. Keterbatasan bukan alasan untuk tidak berdakwah,” ungkap Lilik dengan penuh semangat. Lilik merupakan anggota Majelis Ekonomi Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Lumajang.
Perjalanan mereka berdua ini menjadi perhatian banyak orang, termasuk warga Muhammadiyah setempat. Salah satu saksi mata, menyebut aksi pasangan ini sebagai bukti dedikasi yang luar biasa.
“Mereka menunjukkan bahwa dakwah adalah tentang hati yang tulus, bukan soal usia atau fisik semata,” ujar Umi Fauzia Yuniarsih, Ketua PDNA Lumajang.
Teladan dalam Perjuangan
Menurut Umi, keteladanan mereka berdua memberikan pesan mendalam kepada generasi muda Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Semangat berjuang, meski dalam keterbatasan, adalah cerminan nilai-nilai yang diajarkan oleh organisasi. Ini adalah bentuk komitmen nyata terhadap dakwah yang perlu diteladani,” tambah Umi.
Sampun dan Lilik, yang telah puluhan tahun mengabdi di Muhammadiyah dan Aisyiyah, tetap konsisten memberikan kontribusi mereka untuk masyarakat. Meski usia dan kesehatan menjadi tantangan, pasangan ini membuktikan bahwa dedikasi kepada organisasi dan dakwah tidak pernah mengenal kata lelah.
“Kisah ini diharapkan bisa menjadi motivasi bagi warga Muhammadiyah lainnya untuk terus bersemangat dalam menjalankan amanah, apapun situasinya. Seperti kata pepatah, semangat dakwah adalah bukti cinta kepada umat dan Allah SWT,” pungkas Umi.






