Oleh : Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah
Muhammadiyah sejak awal memiliki hubungan luas dengan organisasi manapun. Kiai Dahlan pelopor dalam pergaulan yang luas. Sejak awal Muhammadiyah menjalin hubungan baik dengan kalangan Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Taman Siswa, organisasi keagamaan Kristen dan Katholik, dan lainnya.
Kiai Ahmad Dahlan bergaul luas dengan Tjokroaminoto, dr Soetomo, dr Wahidin Soedi- rohusodo, Agus Salim, Alimin, Semaun, dan bahkan menjadi guru informal (inthilan, dzawil qurba) Soekarno muda. Kiai Dahlan berkomunikasi baik dengan tokoh Kristen dan Katholik dari Magelang maupun dokter-dokter Belanda. Kiai Dahlan dekat dengan Sultan Hamengkubuwono VII dan bahkan menjadi Penghulu Kraton Yogyakarta.
Tokoh-tokoh Muhammadiyah setelah itu juga menyambung tradisi hubungan dan komunikasi insklusif dengan berbagai pihak. Kiai Mas Mansur selain dekat dengan tokoh Islam lain sampai menggagas lahirnya PII (Partai Islam In- donesia) dan Masyumi, juga dengan tokoh nasionalis. Mas Mansur masuk tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara untuk persiapan kemerdekaan di era pemerintahan Jepang.
Ki Bagus Hadikusumo menjadi Anggota penting di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Per- siapan Kemerdekaan (BPUPK) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, termasuk menjadi tokoh sentral dalam mencari solusi soal Piagam Jakarta bersama Kasman Singadimedjo.
Kiai Badawi sangat dekat hubungannya dengan Presiden Soekarno, di saat situasi politik sangat genting di era akhir tahun 1950an dan awal tahun 1960an. Ketua PP Muhammadiyah tersebut tetap menjaga hubungan dan komunikasi baik dengan Presiden. Padahal ketegangan politik sangatlah tinggi dan problematik yang berujung pembubaran Masyumi serta tragedi G30S/PKI tahun 1965. Muhammadiyah saat itu bahkan memberikan anugerah DR (HC) kepada Soekarno di bidang pemikiran tauhid.
Pak AR Fakhruddin yang memimpin Muhammadiyah sangat lama karena belum ada pembatasan masa kepemimpinan saat itu, dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. Di kala pemimpin Orde Baru itu menerapkan kepemimpinan otoriter, depolitisasi Islam, dan penerapan asas tunggal Pancasila yang sangat ditentang umat Islam; Ketua PP Muhammadiyah itu masih tetap berkomunikasi baik dengan Soeharto.
Kesimpulannya para pemimpin puncak dan tokoh Muhammadiyah sejak era awal sampai selanjutnya senantiasa menjalankan amanat kepemimpinannya melaksanakan hubungan dan komunikasi baik dengan para tokoh puncak pemerintahan dan organisasi lain demi kepentingan Muhammadiyah. Mereka tidak ada kendala berhubungan dan berkomunikasi, termasuk datang ke Istana Presiden maupun menemui tokoh lain dengan jiwa dan kepribadian Muhammadiyah yang kokoh dan fleksibel.
Para pimpinan Muhammadiyah luas dan luwes, kata Prof Malik Fadjar. Tidak ada yang dikorbankan dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan Presiden dan tokoh pemerintahan maupun tokoh lainnya di Republik ini. Marwah dan muruah diri serta organisasi tetap terjaga baik. Di situlah DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) yang menjadi ciri kuat serta darah daging Muhammadiyah.
Kalau serba alergi dan anti komunikasi dengan pihak luar, justru tidak mencerminkan Muhammadiyah. Sekadar membawa selera sendiri. Apalagi dengan menyebarluaskan kebencian dan politisasi dalam hal relasi dan komunikasi dengan pihak lain, termasuk dengan pemerintah. Jangan bawa Muhammadiyah ke lorong sempit, kata Buya Syafii Maarif.






