Januari 16, 2026
Panjimas
Uncategorized

Babe Haikal : Siapa Saja yang Genggam Halal akan Kuasai Dunia

Jakarta, panjimas – Industri halal dunia kini memasuki fase yang semakin matang dan strategis. Tidak lagi dipandang sekadar simbol religius, halal bergeser menjadi standar kualitas global. Perubahan besar ini digambarkan dengan sangat tegas oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan. Ia memulai perspektifnya dengan kalimat yang kuat: “Halal is customer satisfaction. Halal is loyalty program.” Dengan kata lain, halal telah menjadi bahasa universal untuk pelayanan, kualitas, dan kepercayaan.

Untuk memahami besarnya potensi halal di tingkat global, ia menyoroti tiga negara yang saat ini menjadi motor ekonomi dunia: China, Brazil, dan Amerika. Lalu muncul pertanyaan penting darinya: “Negara mana yang paling concern dengan halal? Mana yang pendapatannya paling banyak berasal dari produk halal? Negara mana yang memiliki ekspor halal tertinggi?” Data yang disampaikannya cukup mengejutkan: China mencatat 20,8 M USD, disusul Brazil 20 M USD, dan Amerika 19,5 M USD. Ia kemudian bertanya, “Apa tidak melihat korelasinya?”

Pandangan negara-negara besar terhadap halal pun beragam namun senada dalam satu hal: halal adalah nilai strategis. Amerika memandang bahwa “Halal is symbol of health.” Korea menilai “Halal is double clean.” China melihatnya sebagai peluang ekonomi, “Halal is good economic.” Sementara Inggris memasukkannya dalam narasi keberlanjutan, “halal is going back to green, halal is save the world.”

Haikal Hasan juga menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah peternakan sapi ultra modern di Moscow, Rusia, yang mampu memproses 6.000 ekor per hari. Rumah Potong Hewan (RPH) tersebut begitu bersih dan modern, dan ia pun bertanya bagaimana mereka memisahkan produk halal dan non-halal. Jawabannya lebih maju dari dugaan: “Sejak kami mendirikan RPH ini, kami tidak pernah memproduksi non-halal meat. Seluruhnya adalah halal meat. Halal is for everyone. Kalau saya produksi daging halal maka seluruh negara dapat menerima produk saya, termasuk negara-negara mayoritas muslim.”

Contoh tersebut menunjukkan bahwa negara-negara non-muslim pun melihat halal sebagai strategi ekspor yang memungkinkan mereka menembus pasar global tanpa batas. Karena itu, Haikal Hasan mempertanyakan mengapa Indonesia belum mendefinisikan halal seperti negara-negara yang sudah lebih dulu menjadikannya fondasi ekonomi.

Menurutnya, kita harus berhenti memandang halal sebagai ranah agama semata. “Halal itu ekonomi. Saat ini, halal menjadi mandatory. Maka, halal harus menjadi lifestyle.” Tidak heran jika banyak negara luar begitu antusias terhadap halal, sebab sebagaimana ia tegaskan, “Karena mereka tau siapa pun yang pegang halal akan menguasai dunia.”

Momentum itu kini ada di depan mata. Tahun 2026 akan menjadi tonggak penting ketika makanan, minuman, obat, kosmetik, tekstil, dan barang gunaan resmi wajib bersertifikat halal. Selain sebagai kepatuhan regulasi, standar halal modern juga menuntut transparency, traceability and trustability. Tiga pilar kepercayaan tersebut yang menjadi ciri industri global saat ini.

Related posts

Mendikdasmen : Wisuda Boleh, Asal Jangan Berlebihan dan Jangan Dipaksakan

Admin

Sambut Milad Muhammadiyah Ke-113: Penegasan Agenda Kesejahteraan Bangsa

Admin

Pengajian UAD Muhammadiyah: Muhasabah Akhir Tahun, Bersyukur dan Bertanggung Jawab Terhadap Nikmat

Admin

Leave a Comment