Uncategorized

Karakter Muhammadiyah dan Ideologi Gerakannya Bersifat Insklusif

28
×

Karakter Muhammadiyah dan Ideologi Gerakannya Bersifat Insklusif

Sebarkan artikel ini

Oleh : Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai organisasi melalui berbagai pemikiran keislaman dan ideologi gerakannya juga bersifat insklusif atau terbuka. Islam mengajarkan silaturrahmi, ta’awun, dan menjalin kerja sama dengan dasar iman, takwa, kebaikan, dan nilai-nilai luhur ajaran Islam lainnya. Misi menyempurnakan akhlak mulia dan menebar rahmatan lil-‘alamin itu sangatlah luas. Islam sebaliknya melarang Muslim memutuskan silaturrahmi, ghibah (menggunjing), tashahar (menganggap rendah orang lain) laqab (memberi julukan-julukan buruk), shuu-dhan (buruk sangka), fitnah, serta sifat-sifat buruk lainnya dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan pihak lain.

Muhammadiyah memiliki orientasi kemasyarakatan yang luas. Dalam Muqaddimah AD Muhammadiyah poin kedua disebutkan, bahwa “Hidup manusia bermasyarakat.”. Bacalah sifat-sifat tengahan, luwes, dan terbuka pada Kepribadian Muhammadiyah berikut ini: (1) Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan; (2) Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah; (3) Lapang dada, luas pandangan, de- ngan memegang teguh ajaran Islam; (4) Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan; (5) Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah; (6) Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik; (7) Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam; (8) Kerja sama dengan golongan Islam mana pun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya; (9) Membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.; dan (10) Bersifat adil serta korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) tentang Kehidupan Bermasyarakat disebutkan, “Dalam hubungan-hubungan sosial yang lebih luas setiap anggota Muhammadiyah baik sebagai individu, keluarga maupun jama’ah (warga) dan jam’iyyah (organisasi) haruslah menunjukkan sikap-sikap sosial yang didasarkan atas prinsip menjunjung tinggi nilai kehormatan manusia, memupuk persaudaraan dan kesatuan kemanusiaan, mewujudkan kerja sama umat manusia menuju masyarakat sejahtera lahir dan batin, memupuk jiwa toleransi, menghormati kebebasan orang lain, menegakkan budi baik, menegakkan amanat dan keadilan, perlakuan yang sama, menepati janji, menanamkan kasih sayang dan mencegah kerusakan, menjadikan masyarakat yang shalih dan utama, bertanggung jawab atas baik dan buruknya masyarakat dengan melakukan amar makruf dan nahi munkar, berusaha untuk menyatu dan berguna/ bermanfaat bagi masyarakat, memakmurkan masjid, menghormati dan mengasihi antara yang tua dan yang muda, tidak merendahkan sesama, tidak berprasangka buruk kepada sesama, peduli kepada orang miskin dan yatim, tidak mengambil hak orang lain, berlomba dalam kebaikan, dan hubungan-hubungan sosial lainnya yang bersifat ishlah menuju terwujudnya masyarakat utama yang diridlai Allah SwT.”.

Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, PHIWM pada poin kesatu, digariskan agar “Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dan tidak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan prinsip-prinsip etika / akhlak Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat utama yang diridlai Allah SWT.”. Dalam poin dua PHIWM antara lain disebutkan agar warga Muhammadiyah “mementingkan ukhuwah Islamiyah dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan, dan ishlah.”. Sementara pada poin ketiga, disebutkan “Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri sendiri dan kelompok yang sempit.” Dalam poin keenam PHIWM ditegaskan, “Menggalang silaturrahim dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdas dan dewasa..

Jadi berhubungan dan berkomunikasi dengan pihak luar secara terbuka dan luwes dengan menjaga prinsip gerakan, sungguh menjadi karakter Muhammadiyah sejak awal sampai saat ini dan hingga kapan pun. Hal itu melekat dengan prinsip dasar dan kepribadian Persyarikatan Muhammadiyah. Jika karakter kemuhammadi- yahan tersebut benar-benar dipahami, dihayati, dan diimplementasikan secara jujur dan jernih tanpa pretensi subjektif yang sempit. Kalau serba rumit, picik, dan serba anti hubungan maka bukanlah karakter Muhammadiyah.

Karenanya menjadi naif dan kerdil kalau ada yang tidak suka dan apalagi menghalangi para pimpinan Muhammadiyah berhubungan dan berkomunikasi dengan berbagai pihak di luar. Termasuk berkomunikasi dengan pihak pemerintah dalam berbangsa dan bernegara demi kepentingan organisasi. Bersikaplah kesatria dan terbuka. Janganlah menjadi katak dalam tempurung dalam bermuhammadiyah dan membawa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar di kancah pergaulan luas….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *