Jakarta, panjimas – KH. Muhammad Cholil Nafis Ketua Bidang Dakwah dan Ukhwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan pentingnya persatuan NU dan Muhammadiyah.
Pernyataan ini bukanlah sesuatu yang baru bahkan menurutnya format kepemimpinan MUI bisa dijadikan contoh dalam membangun sinergi kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Setali sejalan dengan itu Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan juga mengatakan bahwa sejak berdirinya MUI telah menerapkan prinsip; pertama, representatif dari semua ormas yang berhimpun di MUI sebanyak 87 Ormas IsIam, dan kedua, MUI sebagai wujud kekuatan ukhuwah guna melebur ananiyah, hisbiyah kelompok.
Atas dasar itulah maka harus mengedepankan ukhuwah Islamiyah, insaniyah, wathaniyah. Ini harus menjadi wujud nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal itu disampaikan buya Amirsyah kepada media usai peluncuran buku dan peringatan ulang tahun ke-70 Buya Anwar Abbas di Aula Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sabtu (15/2/2025).
Acara ini turut dihadiri berbagi tokoh nasional, di antaranya Chairul Tanjung, Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar mengharapkan dengan peluncuran tiga buku dapat membangun prabadan umat. Karena tingginya pradaban suatu bangsa disebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tradisi keilmuan lahir dari banyaknya buku yang merupakan karya para ilmuwan, Ulama dari hasil iqra’ dan menulis (qalam). Hadir juga bendahara umum PP Muhammadiyah Hilman Latief, dan sejumlah pimpinan MUI serta Muhammadiyah.
Dalam acara tersebut, Buya Anwar Abbas mengungkapkan harapannya yang sama agar NU dan Muhammadiyah dapat bersatu demi kepentingan umat Islam dan bangsa. Pernyataan ini disambut baik oleh Chairul Tanjung yang menilai bahwa jika dua ormas Islam terbesar ini bersatu, mereka bisa menentukan arah kepemimpinan nasional.
Lebih lanjut KH Cholil Nafis menegaskan NU-Muhammadiyah tak pernah terpisahkan, misalnya ketika Ketua Umum NU, maka Sekjennya dari Muhammadiya atau sebaliknya. Hanya politiknya yang membedakan.
Menanggapi wacana persatuan NU-Muhammadiyah yang diangkat dalam acara tersebut, KH Cholil Nafis menegaskan bahwa kedua organisasi ini secara fundamental tidak pernah terpisah.
“Saya setuju ketika NU dan Muhammadiyah bersatu, kita gak akan repot. NU dan Muhammadiyah sebenarnya gak pernah berpisah, tetapi memang dalam garis politiknya belum benar-benar berjalan bersama,” ujar pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok tersebut.













