Jakarta, panjimas – Salah satu kekuatan doa kata Ibnul Qayyim yakni: “Doa merupakan salah satu obat yang paling bermanfaat. Doa merupakan lawan dari bala’ menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya, mengangkatnya, meringankannya saat turun, dan merupakan senjata bagi seorang mukmin.” (Ad Da’u wad Dawa’, 1/11).
Kemudian timbul pertanyaan bagi kita, apakah setiap menghadapi masalah diawali doa atau ikhtiar ? Dalam menjalankan rangkaian haji akan timbul masalah karena menghadapi jutaan manusia di tanah suci. Tentu dalam menghadapi masalah sangat tergantung kepada tanggung jawab semua pihak baik pemerintah Arab Saudi, pemerintah Indonesia bersama jamaah haji dalam melakukan ikhtiar dalam menghadapi situasi dan kondisi yang ada.
Adakalanya di awali dengan doa, sebaliknya di awali dengan ikhtiar, sebagaimana firman Allah dalam Qs al-Baqarah ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
wa idzâ sa’alaka ‘ibâdî ‘annî fa innî qarîb, ujîbu da‘watad-dâ‘i idzâ da‘âni falyastajîbû lî walyu’minû bî la‘allahum yarsyudûn
Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ayat ini di awali dengan pertanyaan hamba-Ku tentang Allah, lalu Allah menjawab dekat. Artinya kedekatan manusia sebagai hamba dengan Allah merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Seiring dengan itu sebagai hamba yang lemah memohon kekuatan Allah melalui doa yang tidak pernah putus seperti perintah salat juga bermakna doa yang dilakukan hamba-Nya lima waktu, karena manusia sadar bahwa dirinya lemah, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Perkasa yakni Al-Aziz” (العزيز).
Allah Swt memperlihatkan keperkasaanNya melalui manusia yang lemah, agar senantiasa memohon kekuatan Allah dalam menjalankan segala perintah Allah. Jadi manusia wajib Ikhtiar adalah usaha atau upaya yang sungguh-sungguh dilakukan oleh seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sebaliknya jika manusia malas adalah suatu kondisi atau sikap di mana seseorang tidak memiliki keinginan untuk bekerja atau melakukan sesuatu. Kondisi ini tidak mau melakukan tugas, menghindari aktivitas, atau kurang semangat dalam melakukan sesuatu.
Hal ini tidak sejalan dengan makna ketika berdoa bagian tidak terpisahkan dengan ikhtiar atau perbuatan setiap melaksanakan perintah Allah. Oleh sebab itu baik ikhtiar maupun doa merupakan rangkaian tak terpisahkan dengan berserah diri kepada Allah (tawakkal kepada Allah) setelah melakukan usaha.
Sikap tawakkal menunjukkan keyakinan atau keimanan penuh bahwa Allah SWT sebagai pemilik dan pengatur segala sesuatu. Tawakal bagian dari kesabaran, ketenangan dalam menerima hasil usaha, karena hanya Allah yang menentukan keberhasilan.
Untuk itu kami mengajak semua jamaah haji marilah kita terus perkuat ikhtiar, doa dan tawakkal kepada Allah semoga rangkaian jamaah haji yang merupakan tanggung jawab semua pihak dapat kita lakukan sehingga berjalan sukses dan lancar untuk meraih haji mabrur yakni haji asal kata “al birri” yakni kebaikan atau perbuatan baik.
Secara umum, kata ini merujuk pada tindakan yang baik, bermanfaat, dan mendekatkan seseorang kepada Allah Swt. Contoh tindakan kebaikan yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berbuat baik kepada sesama, menjalankan perintah Allah, dan menjauhi perbuatan dosa. Semoga Allah memberikan balasan haji mabrur yakni surga.
