Jakarta, panjimas – Dalam kegiatan Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (PM3) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jakarta Timur pada 31 Mei – 1 Juni 2025, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur, Ahmad Nasrullah, memberikan catatan penting terkait kualitas dan kesiapan para mubaligh di lingkungan Muhammadiyah.
Ahmad Nasrullah menyoroti bahwa momen-momen penting seperti Idulfitri dan Iduladha seharusnya diisi oleh para khatib yang benar-benar berkualitas dan siap berdakwah, bukan yang terkesan mendadak atau tidak siap.
“Pertanyaannya, apakah mubaligh-mubaligh Muhammadiyah ini tidak berkualitas? Bukan tidak berkualitas, tapi banyak yang tidak siap. Saat dibagi jadwal ceramah, masih banyak yang kaget, bahkan menolak karena merasa belum mampu atau sudah penuh jadwalnya sejak bertahun-tahun,” ujar Nasrullah dalam sambutannya.
Ia juga mengkritisi lemahnya kesiapan teknis mubaligh, terutama dari segi penyampaian. Menurutnya, materi dakwah yang sudah sesuai Sunnah akan menjadi kurang berdampak jika disampaikan tanpa metode yang efektif.
“Sering saya dengar jamaah bingung setelah ceramah: ‘Apa sih yang disampaikan Ustaz ini?’ Artinya, metode penyampaian belum menyentuh. Bukan karena materinya kurang, tapi karena cara menyampaikannya tidak mengena,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Nasrullah juga menyoroti pentingnya penguatan peran mubalighah (da’iyah), atau dai perempuan. Ia menilai masih sangat sedikit perempuan di lingkungan Muhammadiyah yang benar-benar bisa diandalkan untuk berdakwah di ruang publik.
“Siapa da’iyah nasional dari Muhammadiyah yang benar-benar kuat? Kita perlu dorong kader perempuan. Jangan sampai ruang-ruang dakwah yang seharusnya bisa kita isi, malah dibiarkan kosong,” tegasnya.
Nasrullah menekankan bahwa pelatihan seperti PM3 ini adalah langkah strategis.
Menurutnya, Muhammadiyah tidak kekurangan tempat dakwah—yang dibutuhkan adalah SDM yang siap, berani tampil, dan menyampaikan pesan dakwah dengan yang menyentuh.
“Cari suami yang kantornya di masjid saja!” canda Nasrullah kepada peserta perempuan, disambut tawa peserta. “Tapi ini serius, karena dakwah bukan cuma bicara di mimbar, tapi juga soal keteladanan, akhlak, dan kesiapan jiwa.”
Kegiatan PM3 ini menghadirkan lima narasumber dari berbagai latar belakang, dengan materi meliputi komunikasi dakwah, praktik ceramah, hingga etika mubaligh. Diikuti oleh puluhan kader IMM, pelatihan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk mencetak dai muda yang siap tampil di berbagai medan dakwah Muhammadiyah
