MuhammadiyahNasionalNews

Masjid Muhammadiyah Hijau : Gerakan Spiritual dan Solusi Lingkungan

33

Yogyakarta, panjimas – Ruang Aula Gedoeng Muhammadijah di Jalan K.H. Ahmad Dahlan 103, Yogyakarta, pada 28 Mei 2025 dipenuhi suasana hangat dan penuh semangat. Para pengurus takmir masjid dari berbagai daerah berkumpul, berbagi pengalaman dan harapan dalam satu tujuan: menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat solusi atas persoalan lingkungan dan sosial yang semakin mendesak.

Komitmen ini digagas dalam kegiatan Lokakarya Green Masjid bertajuk “Membangun Sinergi untuk Mewujudkan Masjid yang Ramah bagi Kehidupan dan Kelestarian Alam”.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sejalan dengan slogan LPCRPM, “Apa pun masalahnya, masjid adalah solusinya”, lokakarya ini bertujuan memperkuat peran masjid sebagai ruang inklusif yang adaptif terhadap isu kontemporer—terutama krisis iklim dan degradasi lingkungan.

Tiga sasaran utama ditekankan: pertama, membangun pemahaman bersama tentang konsep green masjid—termasuk konservasi air, pengelolaan sampah, penghijauan, dan energi bersih. Kedua, mendorong sinergi antaraktivis masjid lintas wilayah. Ketiga, merancang program konkret yang bisa diterapkan secara langsung.

Masjid, Komunitas, dan Ketangguhan Sosial
Budi Setiawan, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, menekankan bahwa masjid memiliki peran strategis sebagai pusat penguatan komunitas.

“MDMC pernah bergandengan tangan dengan LPCR dalam pelatihan Masjid Tangguh Bencana. Ini menunjukkan bahwa masjid juga berfungsi dalam membangun ketangguhan masyarakat, terutama saat krisis,” ujarnya.

Ia mengapresiasi kolaborasi LPCR dan Eco Bhinneka dalam mendorong masjid yang bersih dan peduli lingkungan, sesuai semangat Muhammadiyah: menghadirkan kenyamanan fisik dan ketenangan spiritual.

Pusat Peradaban dan Tanggung Jawab Ekologis

Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyambut baik lokakarya ini karena menyentuh aspek penting seperti kebersihan, ketertiban, dan pelestarian lingkungan.

“LPCR berkomitmen bahwa masjid harus menjadi pusat budaya dan peradaban Islam di masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masjid mestinya juga menjadi pusat pendidikan, ekonomi, dan gerakan lingkungan. Ia mengutip QS. Ar-Rum: 41 serta Mahatma Gandhi: “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu manusia.” Baginya, perubahan harus bermula dari masjid—tempat merawat manusia dan bumi.

Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, Jamaludin Ahmad (kedua dari kanan), menekankan pentingnya menghidupkan kembali masjid sebagai jantung gerakan Muhammadiyah.
Menghidupkan Kembali Jantung Gerakan Muhammadiyah
Ketua LPCRPM, Jamaludin Ahmad, mengajak peserta untuk menghidupkan kembali masjid sebagai jantung gerakan Muhammadiyah.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tapi pusat gerakan, percontohan, dan pemberdayaan,” katanya.

Ia menjelaskan konsep Green Masjid yang menjadi bagian dari Pedoman Tata Kelola Masjid Muhammadiyah, yang menekankan keseimbangan antara lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan jemaah. Masjid juga didorong menjalin kerja sama dengan Lazismu, LRB, hingga Bank Indonesia dalam pengembangan masjid mandiri ekonomi.

“Kita harus malu jika masjid hanya ramai saat salat Jumat atau tarawih, tapi sepi dari kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan,” tegasnya.

Fikih Air dan Etika Penggunaan dalam Islam

Ustaz Ali Yusuf dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah mengangkat pentingnya fikih air sebagai bagian dari respon keagamaan terhadap krisis ekologi.

“Air bukan sekadar kebutuhan teknis, tapi bagian dari nilai syariah yang mencerminkan keadilan, efisiensi, dan keberlanjutan,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. berwudu hanya dengan satu mud (±0,88 liter). Masjid harus menjadi teladan efisiensi dengan keran hemat air dan edukasi bagi jemaah.

Maya, pakar dari sektor korporasi, memperkuat pandangan ini. “Konservasi air bukan hanya isu lingkungan tetapi juga strategi keberlanjutan lintas sektor,” katanya. Ia mendorong pemanfaatan air wudu bekas, pemanenan air hujan, hingga pembiasaan hemat air di masjid.

Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Rais (duduk, kedua dari kiri), bersama seluruh peserta Lokakarya Green Masjid bertajuk “Membangun Sinergi untuk Mewujudkan Masjid yang Ramah bagi Kehidupan dan Kelestarian Alam”, yang digelar pada 28 Mei 2025 di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
Solusi Krisis Air Dimulai dari Masjid
Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Program 1000 Cahaya, menekankan bahwa masjid harus menjadi pusat solusi krisis air bersih.

“Masjid sudah banyak yang punya niat menjadi green masjid, tapi belum punya indikator dan praktik yang terukur,” ujarnya.

Menurutnya, air wudu—yang seharusnya bisa dikonsumsi—masih sering dibuang percuma. Ia menyebut itu sebagai bentuk kufur nikmat terhadap air.

Sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan LLHPB PP ‘Aisyiyah, Hening mengajak masjid untuk menggunakan panel surya, keran hemat air, serta menjadi pusat edukasi konservasi. “Tujuan akhirnya adalah menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang ramah lingkungan—bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang pembelajaran, inovasi, dan perubahan sosial menuju keberlanjutan,” pungkasnya.

Kisah Sukses Masjid Al-Muharram Brajan

Ananto Isworo dari Masjid Al Muharram Brajan, Yogyakarta, membagikan praktik nyata gerakan Eco-Masjid sejak 2013. Salah satu inovasi penting adalah pemasangan panel surya untuk mengatasi pemadaman listrik yang kerap terjadi.

“Kami berpikir bahwa energi terbarukan lebih ramah lingkungan dan dapat menghemat penggunaan energi fosil,” jelasnya.

Masjid ini dikenal lewat tujuh program unggulan: sedekah sampah, penghijauan, arsitektur ramah lingkungan, konservasi air wudu, serta ramah anak dan difabel. Program ini bahkan diliput oleh media internasional seperti The New York Times dan France24.

“Peran tokoh agama sangat penting dalam menyampaikan pesan lingkungan kepada masyarakat,” tegas Ananto. “Masjid harus menjadi pusat peradaban yang bukan hanya menenangkan secara spiritual, tapi juga berkontribusi aktif pada isu-isu global dan ekologis.”

Peserta dari Berbagai Wilayah
Lokakarya Green Masjid ini diikuti takmir dari 16 masjid Muhammadiyah, antara lain:

Masjid Djuanda (Sragen)

Masjid Daarussalam (Kudus)

Masjid Mujahidin (Semarang)

Masjid Umar bin Khattab (Bantul)

Masjid Nurul Huda (Wonogiri)

Masjid Ahmad Dahlan PCM Banguntapan Selatan (Yogyakarta)

Masjid Mussanif Tabligh Institute (Yogyakarta)

Masjid Mangundimejan (Surakarta)

Masjid Mujahidin PRM Gunungpring (Muntilan, Jawa Tengah)

Masjid Mujahidin (Pandeglang)

Masjid Arrahman (Cikarang)

Masjid Baiturrohim (Lamongan)

Masjid Al Hidayah (Mojokerto)

Masjid Al Fatah (Tulungagung)

Masjid Baitul Mukhlisin (Ponorogo)

Masjid Supangat (Tuban)

Dengan semangat gotong royong dan kesadaran ekologi, para takmir masjid ini siap membawa gerakan Muhammadiyah Hijau ke akar rumput.

Exit mobile version