Yogyakarta, panjimas – Dari balik ruang laboratorium Kampus Muhammadiyah, yaitu Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, lahir sebuah rudal anti-pesawat yang dirancang anak negeri. Rudal itu diberi nama Rudal Merapi.
Bukan rudal mainan, ini senjata beneran dengan kaliber 70 mm, pakai teknologi fire-and-forget, dan udah diuji langsung bareng TNI.
Dikembangkan oleh CIRNOV UAD bareng PT Dahana, Dislitbangad TNI AD, dan BRIN, Rudal Merapi dilengkapi dengan teknologi yang biasa kita dengar di film-film perang: pelacak panas canggih, teleskop digital, night vision, dan peluncur pakai joystick—iya, joystick, mirip controller PS tapi satu klik bisa bikin drone jatuh, bukan musuh di GTA.
Dan yang paling bikin bangga, semua komponennya murni buatan anak bangsa. TKDN-nya hampir 100%. Bukan hasil bajakan atau teknologi sisa-sisa luar negeri.
Tapi bagian paling keren bukan cuma soal teknologinya. Ini bukti bahwa Indonesia sebenarnya punya banyak otak encer yang cuma butuh panggung. Dari kampus swasta berbasis dakwah, lahir inovasi militer yang bikin dunia pertahanan menoleh. Artinya, potensi anak bangsa bukan mitos.
Kalau diberi ruang dan kepercayaan, mahasiswa bisa bikin lebih dari sekadar esai dan powerpoint, mereka bisa bikin rudal. Sungguh, skripsi saja bikin stress, apalagi rudal, ya?
Dan waktu Rudal Merapi dipajang di Indonesia Defence Expo 2025, itu bukan cuma prestasi UAD atau Muhammadiyah. Itu semacam momen “surprise!” buat dunia: bahwa Indonesia nggak bisa diremehkan.
Di balik segala keruwetan birokrasi dan sinyal Wi-Fi kampus yang naik-turun, ternyata ada mahasiswa dan peneliti yang diam-diam membangun masa depan pertahanan bangsa.
