NasionalNews

Dugaan Penyimpangan di Mess Kampar Jakarta: Aluminium di RAB, Hollow di Lapangan

30

Jakarta, panjimas – Proyek rehabilitasi Mess Kampar Jakarta milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kampar, Riau, yang berlokasi di Jl. Kepu Dalam, Kemayoran, Jakarta Pusat, tengah jadi sorotan tajam.

Pantauan di lapangan mengungkap dugaan penyimpangan serius: material yang dipakai berbeda dari dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta tidak ada papan proyek yang seharusnya menjadi kewajiban dalam setiap pekerjaan pemerintah.

RAB Tulis Aluminium, Lapangan Pakai Hollow

Salah satu item pekerjaan proyek ini adalah pemasangan partisi kaca bagian luar. Sesuai RAB, rangka partisi seharusnya menggunakan aluminium. Namun, hasil pengecekan langsung di lokasi menunjukkan penggunaan besi hollow galvanis.

“Kalau di RAB pakai aluminium tapi di lapangan diganti besi hollow, itu jelas pelanggaran. Dampaknya bisa ke kekuatan, keamanan, bahkan umur bangunan,” tegas tokoh muda Kampar di Jakarta, Yurnalis, Rabu (13/8/2025).

Alasan Teknis PUPR Kampar Dinilai Janggal

Kabid Cipta Karya PUPR Kampar, Erizal, membantah bahwa perubahan material ini untuk menghemat biaya. Ia beralasan harga aluminium dan besi hollow galvanis di pasaran relatif sama, dan hollow dipilih karena dianggap mampu menahan beban kaca serta rangka di selasar lantai I dan lantai III yang rawan terpaan angin.

“Pertambahan biaya akibat pekerjaan pengelasan dan pengecatan ditanggung pelaksana dan tidak dijadikan dasar perubahan kontrak (CCO/Addendum). Harga tetap mengacu pada analisa partisi kaca 5 mm rangka aluminium,” ujar Erizal mengutip surat Telaah Staf.

Namun, penjelasan ini dinilai tidak masuk akal oleh banyak pihak. Berdasarkan survei pasar, harga pembuatan partisi aluminium bisa mencapai Rp180 juta. Sementara anggaran proyek ini hanya Rp136,5 juta untuk seluruh item pekerjaan, termasuk perbaikan tiga kamar mandi, pemasangan granit di basemen, dan lainnya.

Indikasi Perencanaan Serampangan dan Perubahan Anggaran

“Kok bisa dianggarkan aluminium dengan total nilai proyek segitu? Gak mungkin mereka gak tahu harga aluminium. Alasannya karena konsultan tidak cek lapangan juga janggal. Masa perencanaan proyek pemerintah segitu serampangan?,” ujar Aliet sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, sistem proyek yang menggunakan swakelola makin memicu dugaan adanya perubahan anggaran setelah ramai dipertanyakan masyarakat.

“Waktu kami minta papan proyek, pemasangannya diulur-ulur. Ini patut dicurigai,” ungkapnya.

Aliet mendesak Bupati Kampar untuk memanggil Kabid Cipta Karya dan PPK yang memegang proyek ini.

“Mess Kampar di Jakarta ini wajah Pemda Kampar di ibu kota. Kalau dikerjakan serampangan, malu kita sama Pemda lain. Ini bukan cuma soal teknis, tapi soal nama baik daerah,”

“Kalau perlu kembalikan ke aluminium dan kami tantang buka RAB. Kalau tidak akan kami laporkan penyimpangan ini,” tegas Yurnalis.

Exit mobile version