MuhammadiyahNasionalNews

Mengajak, Bukan Mengejek: Dakwah dengan Lemah Lembut dan Keteladanan

29

Gresik, panjimas – Suasana Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik pada Ahad pagi (7/9/2025) tampak penuh. Deretan kursi biru terisi jemaah yang datang sejak pagi, mulai dari bapak-bapak bersongkok hitam dan putih, ibu-ibu dengan kerudung warna-warni, hingga anak muda yang antusias mengikuti jalannya acara.

Di depan, sebuah panggung sederhana dengan spanduk bertuliskan “Pengajian Ahad Pagi” menjadi pusat perhatian. Di hadapan ratusan jemaah itu, Ketua Bidang Dakwah MUI Kota Mojokerto, Drs. H. Musta’in Razaq, M.Pd.I., menyampaikan materi bertema kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Menurut Musta’in, amar makruf nahi mungkar merupakan kekhususan dan keistimewaan umat Islam yang sangat berpengaruh pada kemuliaannya. Allah Swt. bahkan mendahulukan penyebutannya sebelum iman dalam firman-Nya pada Surah Ali Imran 110:

Baca Juga: Tantangan dari Juri: Tiga Produk SD Almadany Didorong Raih Sertifikat HAKI
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

“Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban yang dibebankan Allah kepada umat Islam sesuai kemampuan masing-masing. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, As-Sunah, dan ijma ulama,” terangnya sambil mengutip Surah Ali Imran 104.

Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah Saw.: “Barang siapa melihat satu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim).

Dakwah Dimulai dari Keluarga
Musta’in menekankan, salah satu upaya nyata dalam amar makruf nahi mungkar adalah dakwah di lingkungan keluarga. Ia mengutip firman Allah dalam Surah At-Tahrim 6 agar setiap orang beriman menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka.

“Dalam keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, dakwah harus dilakukan secara serius dengan saling mengingatkan. Suami yang membahagiakan istri dan anak akan menghadirkan keberkahan hidup dan rida Allah,” jelasnya dalam pengajian yang diadakan oleh Majelis Tablig Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik ini.

Dakwah dengan Lemah Lembut
Lebih lanjut, Musta’in menjelaskan metode dakwah dengan mau‘izah hasanah atau nasihat yang baik. Dakwah, katanya, bukan dengan marah-marah atau menghakimi, melainkan dengan kelembutan, keteladanan, dan bahasa yang menyentuh hati.

Ia mengutip Ali Imran 159: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka…”

“Di zaman sekarang banyak mubalig yang berdakwah dengan nada marah-marah. Padahal dakwah itu mestinya mengajak, bukan mengejek; mendidik, bukan menghardik; menyayangi, bukan menyaingi; dan berempati, bukan membenci,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga lisan dalam berdakwah. Lidah, menurutnya, adalah penerjemah hati. Karena itu, kelurusan iman seseorang sangat terkait dengan kelurusan lisannya.

“Berdakwah harus dilandasi dengan rida dan kesabaran. Dengan begitu, pesan dakwah akan lebih diterima dan membuahkan kebaikan,” ujarnya.

Exit mobile version