MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Dorong Sekolah Ramah Lingkungan untuk Hadapi Krisis Iklim

48

Jakarta, panjimas – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar kegiatan Berbagi Praktik Baik Sekolah Ramah Lingkungan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim, di Jakarta, Kamis 11 September 2025.

Agenda ini terselenggara berkat dukungan Global Partnership for Education (GPE) dan Unicef ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Di antaranya Prof. Dr. M. Arskal Salim G.P., M.Ag. (Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI), Ir. Agus Djamil, M.Sc. (Direktur Eksekutif Muhammadiyah Climate Center/MCC), serta Dr. Maulani Mega Hapsari, S.IP., M.A. (Direktur SMP Kemendikdasmen).

Hadir pula M. Khoirul Huda, M.Pd. (Sekretaris Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah), Nur Rofika Ayu Shinta Amalia (Ketua Tim Kerja Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, BSKAP Kemendikdasmen RI), serta Sutanpri, S.Pd., M.M. (Kepala SMA Muhammadiyah 4 Bengkulu) yang berbagi praktik baik di sekolahnya.

R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D., Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, menyampaikan terima kasih atas dukungan Unicef, GPE, dan berbagai mitra pendidikan.

“Sinergi ini menunjukkan keseriusan semua pihak dalam mendorong pendidikan berwawasan lingkungan,” ujarnya.

R. Alpha Amirrachman
Pendidikan Iklim sebagai Agenda Mendesak
Dr. Muhammad Yusro, S.Pd., M.T., Sekretaris BSKAP Kemendikdasmen, menegaskan bahwa pendidikan iklim tak sebatas pengetahuan.

Ia mencontohkan sekolah Adiwiyata di Jakarta dan Green School Bali dengan konsep ramah lingkungan, kebun organik, dan energi terbarukan.

“Tujuan pendidikan iklim adalah mencetak generasi kritis, berkelanjutan, dan siap menjadi agen perubahan,” ungkapnya.

Yusro juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, masyarakat, serta ormas pendidikan seperti Muhammadiyah dan NU.

Peserta bersama narasumber
Muhammadiyah dan Kesadaran Iklim
Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., Bendahara Umum PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa isu lingkungan sudah menjadi bagian dari tiga gerakan utama Muhammadiyah: pembaruan, ilmu, dan kesadaran perubahan iklim.

“Sekolah ramah lingkungan bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga narasi, filosofi, dan kesadaran,” tegasnya.

Ia menambahkan, perubahan iklim sering dianggap isu elitis. Padahal dampaknya nyata bagi masyarakat.

Karena itu, Muhammadiyah mendorong edukasi dan literasi lingkungan melalui pendidikan formal maupun nonformal. Mulai dari sekolah alam, green school, green campus, hingga gerakan sederhana seperti menanam pohon dan bertani.

“Menanam masa depan harus dimulai dari sekarang,” ujarnya.

Semua pihak sepakat bahwa pendidikan iklim adalah agenda global sekaligus nasional yang mendesak.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar upaya mitigasi perubahan iklim benar-benar berdampak nyata bagi generasi mendatang

Exit mobile version