CitizenMuhammadiyahOpini

Urgensitas Dakwah Digital di Muhammadiyah

51

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)

Dakwah adalah ruh pergerakan Islam. Sejak masa Rasulullah SAW, dakwah telah menjadi jalan utama dalam menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Melalui dakwah, nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin menyebar ke berbagai bangsa dan peradaban. Seiring dengan perkembangan zaman, bentuk dakwah mengalami transformasi. Jika dahulu dakwah dilakukan melalui mimbar, majelis taklim, atau pertemuan langsung antar-individu, kini dakwah juga dituntut hadir dalam ruang baru yaitu ruang digital.

Bagi Muhammadiyah, sebagai salah satu gerakan Islam modern terbesar di dunia, isu dakwah digital bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.

Dengan jumlah warga Muhammadiyah yang besar, jaringan organisasi yang luas, serta kiprah nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk menjadikan dakwah digital sebagai instrumen strategis dalam memperluas pengaruh dan memberikan pencerahan kepada umat.

Tulisan ini akan membahas empat hal penting yaitu urgensitas dakwah digital, tantangan dalam dakwah digital, apa yang harus dilakukan mubaligh atau dai Muhammadiyah, serta strategi agar dakwah digital berjalan efektif.
Mengapa dakwah digital penting?

Pertama hal ini karena ada perubahan perilaku sosial. Era digital telah mengubah cara manusia berinteraksi. Menurut laporan We Are Social (2025), lebih dari 80% penduduk Indonesia aktif menggunakan internet setiap hari. Media sosial seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan X (Twitter) menjadi ruang utama tempat orang menghabiskan waktu.

Generasi muda, khususnya, lebih sering mencari informasi, hiburan, bahkan rujukan agama melalui gawai mereka ketimbang datang ke majelis taklim tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital kini menjadi medan dakwah baru. Jika Islam ingin tetap relevan dan dekat dengan umat, ia harus hadir di tempat di mana masyarakat berada yakni di dunia maya.

Alasan kedua ialah ruang digital memungkinkan pesan dakwah menjangkau audiens yang jauh lebih luas. Sebuah ceramah di masjid mungkin hanya didengar ratusan orang, tetapi jika direkam dan diunggah ke media sosial, ceramah itu bisa ditonton ribuan bahkan jutaan orang. Dakwah tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.

Bagi Muhammadiyah, hal ini penting untuk memperluas jangkauan dakwah berkemajuan. Ide-ide Islam yang rasional, mencerahkan, dan kontekstual bisa tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke seluruh dunia.

Alasan ketiga ialah ruang digital juga merupakan arena kontestasi narasi. Berbagai ideologi, paham keagamaan, hingga pandangan politik saling bersaing di sana.

Banyak sekali konten keagamaan yang sifatnya dangkal, provokatif, bahkan menyimpang dari prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.

Jika Muhammadiyah tidak hadir, maka ruang itu akan diisi oleh pihak lain dengan narasi yang belum tentu sesuai dengan visi dakwah berkemajuan.

Karena itu, urgensitas dakwah digital bagi Muhammadiyah terletak pada tanggung jawab moral dan historis yaitu untuk menjaga agar umat mendapatkan informasi keagamaan yang otentik, mencerahkan, dan membangun peradaban.

Meski penuh peluang, dakwah digital juga sarat tantangan. Tantangan pertama ialah informasi yang melimpah dan membingungkan. Internet adalah lautan informasi.

Di satu sisi, hal ini memudahkan akses pengetahuan. Namun di sisi lain, masyarakat sering kesulitan memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan. Dalam hal agama, kondisi ini bisa sangat berbahaya.

Tantangan kedua ialah kompetisi dengan konten hiburan. Fakta lain yang harus disadari adalah bahwa mayoritas pengguna internet lebih tertarik pada konten hiburan ketimbang konten agama. YouTube, TikTok, atau Instagram dipenuhi dengan video lucu, musik, game, atau gosip selebriti.

Dalam konteks ini, dai Muhammadiyah menghadapi tantangan untuk menghadirkan dakwah yang tidak kalah menarik dengan konten hiburan, tanpa kehilangan substansi.
Tantangan ketiga ialah potensi polarisasi.

Ruang digital sering kali memperkuat polarisasi. Algoritma media sosial mendorong pengguna untuk terus melihat konten yang sejalan dengan preferensi mereka.

Dalam dakwah, hal ini bisa membuat masyarakat terjebak dalam “ruang gema” (echo chamber) yang mempersempit cara pandang.

Tantangan keempat ialah keterbatasan literasi digital dai. Tidak semua mubaligh atau dai memiliki keterampilan digital.

Ada yang masih gagap teknologi, ada pula yang sudah bisa menggunakan media sosial tetapi belum mampu mengemas pesan secara efektif. Ini tantangan serius, mengingat kecepatan perkembangan teknologi digital yang luar biasa.

Tantangan terakhir ialah risiko etika dan keamanan. Dakwah digital juga rentan terhadap persoalan etika.

Misalnya, penyalahgunaan ayat atau hadis untuk konten viral, penggunaan bahasa kasar, atau terjebak dalam perdebatan tidak produktif di media sosial. Belum lagi ancaman keamanan digital seperti pencurian data atau serangan siber.

Dalam menghadapi era digital, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh para mubaligh atau dai Muhammadiyah.

Pertama, meningkatkan literasi digital. Dai Muhammadiyah perlu melek teknologi.

Tidak cukup hanya bisa membuka WhatsApp atau Facebook, tetapi harus memahami cara kerja media sosial, teknik produksi konten, hingga etika berinteraksi di dunia maya. Dengan bekal literasi digital, dai bisa lebih percaya diri dan profesional dalam berdakwah.

Kedua, menguasai materi dakwah yang relevan. Dakwah di era digital menuntut materi yang tidak hanya normatif, tetapi juga kontekstual.

Dai Muhammadiyah harus mampu menjawab persoalan aktual mulai dari isu kesehatan mental, lingkungan hidup, ekonomi digital, hingga etika bermedia sosial.

Ketiga, menjadi teladan akhlak digital. Dai bukan hanya penyampai pesan, tetapi juga teladan. Di ruang digital, setiap ucapan, komentar, atau postingan dai akan dinilai oleh publik.

Karena itu, dai Muhammadiyah harus menjaga akhlak digital yaitu santun, bijak, dan tidak mudah terpancing emosi.

Keempat, kolaborasi dan jaringan. Dakwah digital tidak bisa dilakukan sendirian. Para dai perlu membangun kolaborasi dengan sesama mubaligh, lembaga dakwah, komunitas konten kreator, hingga generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.

Agar dakwah digital Muhammadiyah benar-benar berdampak, beberapa strategi berikut bisa dijalankan.

Pertama, memahami segmen audiens. Setiap platform memiliki karakteristik pengguna berbeda. TikTok dan Instagram lebih disukai generasi muda, YouTube cocok untuk konten panjang, sementara podcast diminati kalangan tertentu yang suka diskusi mendalam.

Dai Muhammadiyah harus memahami segmen ini agar pesan dakwah tepat sasaran.

Kedua, menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa dakwah digital harus sederhana, komunikatif, dan dekat dengan keseharian audiens. Hindari jargon teologis yang terlalu berat, kecuali untuk segmen tertentu.

Ketiga, kreatif dalam penyajian. Konten dakwah tidak harus selalu ceramah panjang. Bisa berupa video pendek, infografis, kutipan inspiratif, atau animasi. Kreativitas sangat menentukan agar pesan dakwah tidak membosankan.

Keempat, konsistensi dan kualitas. Dakwah digital harus konsisten. Jika hanya muncul sesekali, audiens mudah melupakan. Selain itu, kualitas materi harus dijaga agar tetap otentik, valid, dan sesuai manhaj Muhammadiyah.

Kelima, memanfaatkan teknologi baru. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), big data, atau live streaming bisa dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah. Muhammadiyah sebagai organisasi besar bisa membangun pusat dakwah digital yang terintegrasi dengan teknologi mutakhir.

Keenam, mengedepankan etika. Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak konten ditonton, tetapi juga seberapa besar ia membawa kebaikan.

Karena itu, strategi dakwah digital harus selalu berpegang pada etika Islam.
Dakwah digital adalah keniscayaan. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak di era modern.

Muhammadiyah, dengan tradisi intelektual dan amal usaha yang kuat, memiliki modal besar untuk menjadi pionir dakwah digital yang mencerahkan.

Namun peluang besar itu juga datang dengan tantangan besar yaitu derasnya arus informasi, kompetisi dengan konten hiburan, risiko polarisasi, hingga keterbatasan literasi digital para dai. Karena itu, mubaligh Muhammadiyah harus membekali diri dengan keterampilan digital, menguasai materi yang relevan, serta menjadi teladan akhlak di ruang maya.

Dengan strategi yang tepat, mulai dari memahami audiens, menggunakan bahasa sederhana, kreatif dalam penyajian, konsisten, hingga memanfaatkan teknologi terbaru; maka dakwah digital Muhammadiyah bisa menjadi kekuatan besar dalam membangun peradaban Islam berkemajuan.

Dakwah digital bukan sekadar tentang bagaimana kita hadir di media sosial, tetapi tentang bagaimana kita menyalakan cahaya Islam yang mencerahkan di tengah dunia yang semakin kompleks. Inilah tantangan, sekaligus peluang besar bagi Muhammadiyah untuk melanjutkan kiprah dakwahnya di abad kedua.

Exit mobile version