MuhammadiyahNasionalNews

Akar Panjang Dakwah MuhammadiyahDari Makkah ke Yogyakarta:

27
×

Akar Panjang Dakwah MuhammadiyahDari Makkah ke Yogyakarta:

Sebarkan artikel ini

Oleh Dr. Afan Alfian, M.I.Kom.

Jakarta, panjimas – Ketika kita memperingati Milad Ke-113 Muhammadiyah, kita tidak hanya merayakan usia sebuah organisasi, tetapi juga menandai panjangnya perjalanan cahaya dakwah yang jejaknya dapat dilacak hingga perjuangan Nabi Muhammad Saw. di Makkah.

Sebagaimana Nabi dahulu menghadapi tekanan luar biasa, propaganda, dan fitnah dari kaum Quraisy, K.H. Ahmad Dahlan pun melewati jalan terjal ketika membawa pembaruan Islam di tanah Jawa.

Dua misi ini memang lahir dalam ruang dan zaman yang berbeda, tetapi keduanya bertemu pada satu titik: keberanian untuk menyampaikan kebenaran meskipun ditentang oleh tradisi, kekuasaan, dan ketakutan manusia terhadap perubahan.

Di Makkah, kaum Quraisy pernah berkumpul di rumah Al-Walid bin Al-Mughirah untuk merancang propaganda besar guna menghentikan dakwah Nabi Muhammad.

Mereka kebingungan menentukan tuduhan yang akan disematkan—gila, dukun, penyair—hingga akhirnya memilih menyebut beliau sebagai penyihir. Semua itu dilakukan karena ajaran tauhid yang dibawa Nabi mengguncang kenyamanan dan kepentingan mereka. Kebenaran dipandang sebagai ancaman, bukan petunjuk.

Lima belas abad kemudian, perjuangan serupa dialami K.H. Ahmad Dahlan. Ketika dia mengajak umat kembali memahami Al-Qur’an dan Sunah, sebagian orang merasa tatanan lama mereka terganggu.

Ada yang menuduhnya membawa “ajaran baru”, menyebutnya kiai kafir, menudingnya merusak tradisi, bahkan membakar surau tempat beliau mengajar. Fitnah dan penolakan itu bukan karena ajarannya keliru, tetapi karena kebenaran selalu menggoyahkan kenyamanan yang telah lama dianggap wajar.

Namun, sebagaimana Nabi Muhammad Saw, yang tetap sabar dan teguh dalam berdakwah, K,H. Ahmad Dahlan memilih jalan serupa: jalan keteladanan, kesabaran, dan kerja nyata. Dia tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi dengan ilmu, pendidikan, pelayanan sosial, dan pengabdian.

Dari tangannya lahir sebuah gerakan besar yang kini kita kenal sebagai Muhammadiyah, gerakan yang terus mencerahkan, memajukan, dan merawat umat tanpa henti.

Tak Pernah Padam
Kini, pada usia 113 tahun, Muhammadiyah berdiri sebagai bukti bahwa cahaya kebenaran tidak pernah padam. Apa yang bermula di kampung kecil Kauman telah berkembang menjadi gerakan nasional dan global.

Melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, masjid, hingga layanan kebencanaan, Muhammadiyah meneruskan spirit dakwah yang diwariskan Nabi Muhammad dan dibangkitkan kembali oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Bagi generasi muda masa kini, kisah paralel antara Nabi Muhammad dan K.H. Ahmad Dahlan menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu disambut tepuk tangan. Terkadang ia hadir bersama fitnah, penolakan, dan kesalahpahaman. Namun, apabila kebenaran diyakini dan diperjuangkan dengan kesungguhan, waktu akan membuktikan nilainya.

Pada milad kali ini, kita belajar bahwa cahaya perjuangan tidak akan pernah padam. Ia justru semakin kuat, semakin luas, dan semakin bermakna. Tugas kita adalah menjaga agar cahaya itu terus menerangi Indonesia dan dunia.

Selamat Milad Ke-113 Muhammadiyah! Semoga Muhammadiyah senantiasa mencerahkan, menggerakkan, dan memajukan umat dengan keberanian, keikhlasan, dan keteguhan, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw dan K.H. Ahmad Dahlan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *