MUINasionalNews

MUI: Ketahanan Digital Kunci Menjaga Umat

29

Jakarta, panjimas – Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menegaskan pentingnya para ulama untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah, pendidikan, sekaligus benteng ketahanan bangsa. Menurutnya, dunia digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang strategis yang wajib dikuasai agar ajaran Islam tetap tersampaikan secara benar kepada generasi baru.

Dalam penjelasannya, Kiai Cholil menyoroti adanya kesenjangan besar antar generasi dalam cara mengakses informasi keagamaan. Generasi tua yang ia sebut sebagai “generasi kolonial” masih bertumpu pada model dakwah konvensional. Sementara generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha sepenuhnya hidup di ruang digital. Perbedaan ini, menurutnya, membuat sebagian ulama kehilangan audiens karena tidak mampu menjangkau umat melalui medium yang mereka gunakan setiap hari.

“Jika ulama tidak kreatif memanfaatkan media digital, maka peluang menjangkau jamaah yang lebih luas akan hilang. Orang sekarang belajar agama lewat digital. Siapa yang tidak hadir di sana, akan ditinggalkan,” ujar Kiai Cholil dalam suasana Konferensi Pers Musyawarah Nasional XI MUI 2025 di Gedung MUI, di Jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat, Selasa (18/11/2025).

Kiai Cholil menegaskan bahwa digitalisasi seharusnya menjadi peluang, bukan hambatan. Di era ini, dakwah tidak perlu menunggu undangan atau pertemuan fisik. Sekali sebuah konten disebarkan, pengaruhnya bisa menjangkau jutaan orang secara serempak.

“Kalau konferensi pers hanya dilihat puluhan orang, maka lewat digital bisa dilihat jutaan. Ini potensi besar,” kata pengasuh Pesantren Cendekia Amanah ini.

Namun, kiai asal Madura ini juga mengingatkan bahwa dakwah digital tetap harus menjaga prinsip validitas ilmu. Menurutnya, ajaran agama tidak hanya sebatas informasi, tetapi mengandung kebijaksanaan, rasa, dan keteladanan yang harus ditransmisikan dengan benar. Karena itu, keberadaan guru dan sanad keilmuan tetap tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.

Di sisi lain, Kiai Cholil mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), deepfake, atau manipulasi digital lainnya yang dapat menyesatkan publik. Ia menyebutkan bahwa informasi palsu kini mampu mempengaruhi generasi muda, bahkan bisa menggoyahkan nasionalisme mereka.

“Kedaulatan negara sekarang bisa diserang bukan dengan senjata, tetapi dengan informasi yang menyesatkan. Anak-anak bisa kehilangan cinta tanah air karena diracuni informasi digital,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus remaja yang terpapar konten kekerasan dan berujung pada tindakan membahayakan, termasuk percobaan peledakan di sekolah. “Inilah akibat literasi digital yang lemah. Negara bisa terguncang hanya karena masyarakat tidak mampu memilah informasi,” ucapnya.

Menurut Kiai Cholil, ketahanan digital Indonesia perlu diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tidak menjadi korban “penjajahan digital” oleh pihak asing yang menguasai platform-platform besar.
“Operator media digital banyak yang berada di luar negeri. Korbannya masyarakat kita sendiri. Ini bentuk penjajahan baru,” tegasnya.

Melihat cepatnya perubahan teknologi, Kiai Cholil meyakini bahwa 50 tahun ke depan manusia akan hidup dalam peradaban yang sepenuhnya digital. Karena itu, ia mendorong MUI dan seluruh ulama untuk serius membangun literasi digital umat, terutama generasi muda.

“Dakwah harus masuk ke dunia digital. Ilmu harus masuk ke digital. Kita harus jadikan digital sebagai dasar pergerakan kita ke depan,” katanya.

Exit mobile version