NasionalNews

Roda Jam’iyyah Mati, Gus Nadir Kecewa, NU yang Dicintainya Pecah

69

Jakarta, panjimas – Polemik yang terjadi dalam internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disesalkan banyak pihak.

Polemik terjadi setelah Ketua Dewan Syura PBNU sekaligus Rais ‘Aam PBNU, Miftachul Akhyar mendesak Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk mundur.

Gus Yahya didesak mundur dari jabatan Ketua PBNU karena dua hal.

Pertama, terkait dengan narasumber zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU.

Kedua, terkait tata kelola keuangan di PBNU yang mengindikasikan pelanggaran hukum dan melanggar Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU.

Atas pelanggaran tersebut, Miftachul Akhyar menandatangani risalah rapat harian pada 20 November 2025.

Isinya, mendesak Gus Yahya mundur sesuai dengan Pasal 8 huruf a Peraturan NU Nomor 13 tahun 2025 tentang pemberhentian fungsionaris, pergantian antar waktu, dan pelimpahan fungsi jabatan.

Desakan pemakzulan Gus Yahya tersebut ditanggapi Akademisi dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Nadirsyah Hosen.

Lewat twitter atauxpribadinya @na_dirs pada Minggu (23/11/2025), pria yang akrab disapa Gus Nadir itu menilai konflik yang terjadi menjadi bukti matinya Roda Jam’iyyah NU.

“Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am,” tulis gus Nadir.

“Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum). Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum,” jelasnya.

“Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen,” bebernya.

Polemik yang terjadi menurutnya bukan lagi soal organisasi yang macet.

Hal ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan.

Masing-masing pihak katanya berjalan sendiri.

Hasilnya, Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU.

“Roda terkunci mati. Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah,” ungkap Gus Nadir.

“Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati,” tegasnya.

Tagline ingin ‘menghidupkan kembali Gus Dur’, dinilai Gus Nadir hanya slogan.

Nyatanya sikap kritis itu justru hilang sama sekali.

“Mengaku ingin ‘governing NU’, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres,” jelas Gus Nadir.

“Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang,” bebernya.

Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.

Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.

“Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….” tanya Gus Nadir

“Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya,” tutupnya.

Postingan Gus Nadir pun disambut ramai masyarakat.

Beragam kritik disampaikan dalam kolom komentar postingannya.

@wahyutriwidod15: Jadi kangen pak kh hasyim muzadi

@NugrohoTv: Jika.. mbah hasyim Asyary Bangkit Dari kuburanN Pasti Marah Besar nih, wajah nan Pedoman NU Rusak oleh Oknum hanya untuk . Kepentingan Duit & Dapur nya terisi tidak peduli halal Haram nya..

@Leeshien5: NU sejati & ikhlas itu di tingkatan MWC ke bawah (ranting-anak ranting), pengurusnya bener⊃2; terjun langsung ke umat & menjaga tradisi ASWAJA di akar rumput.
Klo PC ke atas…??? Wallahu a’lam bi as-showab.

@UbaiBaiquni: Alm. Kyai saya berwasiat “santri saya yg keluar dari NU jangan berharap berkumpul dengan saya kelak di akherat.” Sekarang kata “NU” saya tafsirkan ulang, organisasi yang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi masyarakat.
Apakah saya durhaka ke guru saya gus?

@alfianriskip: Kenapa kelompok yg notabene sebagai perkumpulan ahli Agama jg berseteru mas?

@indhazaineb: Maaf saya pun tidak mau berharap ikut organisasi atau jama’ah karna ulah kita makanya saya diam biarkan mereka yg berdebat meski saya tetap membaca ilmu dan perlahan mengamati publik kita.. siapa yang berani berdebat biarlah mereka berdebat bukan masalah organisasi tapi perilaku

@suhadah234: Dan pada akhirnya tali tambang itu rapuh, semoga segera dirangkai kuat lagi agar tidak putus, dan sembilan bintang tidak terberai..

@didiabdurohman: Akhirnya, rencana besar kaum ‘itu’ untuk menghancurkan dan meng-acak2 NU berhasil, dengan merusaknya dari dalam

@Oposan62: Jujur saja, PBNU kini tak bisa jadi kompas moral lagi. Ibaratnya sudah seperti organisasi agama yang kehilangan Tuhan

Gus Yahya Menolak Mundur
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melawan usai coba ditumbangkan oleh sejumlah pengurus PBNU.

Gus Yahya mengaku tidak sama sekali memiliki keinginan untuk mundur dari Ketua PBNU.

“Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua PBNU,” katanya usai menggelar pertemuan dengan para Ketua PWNU tingkat provinsi di Surabaya, Minggu (23/11/2025) dini hari seperti dimuat Kompas.com.

Diketahui belakangan PBNU diterpa isu perpecahan setelah risalah rapat harian Syuriyah yang ditetapkan pada 20 November 2025 memutuskan agar Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Edaran tersebut juga memberikan ultimatum, jika dalam waktu tiga hari tidak mengundurkan diri, Gus Yahya akan diberhentikan sebagai Ketua Umum PBNU.

Dalam surat ini juga dijelaskan dua alasan yang menyebabkan permintaan pengunduran diri itu dikeluarkan.

Pertama, terkait dengan narasumber zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU.

Kegiatan ini dinilai melanggar Pasal 8 huruf a Peraturan NU Nomor 13 tahun 2025 tentang pemberhentian fungsionaris, pergantian antar waktu, dan pelimpahan fungsi jabatan.

Alasan berikutnya terkait tata kelola keuangan di PBNU yang mengindikasikan pelanggaran hukum dan melanggar Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU.

Terkait menolak desakan mundur itu, Gus Yahya beralasan mendapat mandat dari peserta Muktamar untuk memimpin PBNU sebagai ketua tanfidziyah selama 5 tahun sejak Muktamar NU ke-34 pada 2021 lalu di Provinsi Lampung.

Gus Yahya pun mengaku sanggup mengemban jabatan hingga selesai.

“Saya mendapat mandat 5 tahun memimpin NU, karena itu akan saya jalani selama 5 tahun, insya Allah saya sanggup,” kata dia.

PBNU Memanas
Penolakan Gus Yahya berawal dari beredar luasnya sebuah dokumen risalah Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Aston City Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Dalam risalah tersebut, tertuang sejumlah keputusan penting terkait pengelolaan kelembagaan Perkumpulan NU serta berbagai dinamika yang terjadi di lingkungan internal organisasi.

Rapat yang dipimpin langsung Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, itu diikuti 37 dari total 53 anggota Pengurus Harian Syuriyah dan berlangsung sejak pukul 17.00 hingga 20.00 WIB.

Dalam pembahasannya, Syuriyah PBNU menyoroti dengan serius pemanggilan seorang narasumber pada kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak sejalan dengan Maqashidul Qanun Asasi Nahdlatul Ulama serta arah perjuangan PBNU dalam membela kemanusiaan.

Rapat Syuriyah menilai pelaksanaan AKN NU tidak memenuhi ketentuan Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025, khususnya terkait prosedur pemberhentian dan penggantian fungsionaris.

Syuriyah PBNU juga memberikan perhatian khusus terhadap tata kelola keuangan organisasi. Rapat menilai sejumlah praktik perlu ditinjau ulang agar sepenuhnya selaras dengan hukum syara’, regulasi negara, dan Anggaran Rumah Tangga NU.

Berdasarkan seluruh pertimbangan tersebut, Syuriyah PBNU menyerahkan keputusan final kepada Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam. Setelah melakukan musyawarah, ditetapkan keputusan berikut:

KH Yahya Cholil Staquf diminta mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari sejak keputusan ini diterbitkan.

Jika dalam tiga hari tidak ada pernyataan pengunduran diri, maka Rapat Harian Syuriyah PBNU akan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum.

Exit mobile version