Jakarta, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad menyampaikan bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sangatlah besar dan tak mampu dihitung satu per satu. Hal tersebut disampaikan dalam acara Refleksi Milad ke 113 Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada Ahad (23/11).
Dalam tausiyahnya, Dadang menegaskan bahwa terdapat tiga nikmat besar yang harus selalu disyukuri oleh warga Muhammadiyah.
Pertama, nikmat hidup. “Hidup adalah nikmat yang sangat mahal. Tidak ada orang yang bisa menjual nikmat hidup. Kalau pun bisa, para konglomerat pasti ingin hidup selamanya,” pesannya.
Kedua, nikmat iman dan Islam, yang menurutnya merupakan tiket kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Ketiga, nikmat berorganisasi dalam Muhammadiyah.
Dadang mengingatkan pentingnya bersyukur dapat menjadi bagian dari Persyarikatan yang tersusun kokoh layaknya bangunan solid sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaff.
Tiga Kunci Muhammadiyah Bertahan Lebih dari Satu Abad
Dalam kesempatan tersebut Dadang menjelaskan tiga alasan mengapa Muhammadiyah mampu berdiri tegak hingga lebih dari satu abad. Pertama, Muhammadiyah memberi manfaat untuk umat dan bangsa.
Dengan dakwah serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), manfaat Persyarikatan menyebar dari Aceh hingga Papua, bahkan sampai ke luar negeri melalui PCIM yang telah hadir di 30 negara.
“Kalau sebuah cabang atau ranting tidak lagi memberikan manfaat, lama-lama akan hilang. Termasuk PDM Ponorogo, jika tidak memberi pencerahan, tunggu saja waktu itu terjadi,” tegasnya.
Kedua, Sumber daya manusia Muhammadiyah memiliki karakter yang kuat. Ia menyebut enam karakter utama yang menjadi ciri kader Muhammadiyah yakni beriman kokoh, sabar, jujur, taat aturan agama dan negara, dermawan, dan gentleman mengakui kesalahan.
“Kalau hidup sulit, maka berderma lah. AUM bisa tumbuh besar karena kedermawanan warga Persyarikatan,” ujarnya.
Diakhir Dadang juga menegaskan bahwa Muhammadiyah masih akan panjang umur karena tantangannya belum selesai.
Amar makruf nahi mungkar akan terus menjadi agenda perjuangan Persyarikatan selama kemungkaran masih ada di dunia.
Dadang mengajak seluruh hadirin untuk memperbaiki kualitas ibadah dan menjalankannya dengan ikhlas. “Ibadah yang dilakukan dengan hati lapang dan penuh keikhlasan akan berdampak pada pribadi kita,” ungkapnya
