MuhammadiyahNasionalNews

Saatnya Muhammadiyah Bangkit sebagai Kekuatan Ekonomi Umat, Anwar Abbas Serukan Hijrah Mentalitas

63

Tasik, panjimas — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya kebangkitan ekonomi umat dalam Tabligh Akbar Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar di Tasikmalaya, Sabtu (29/11).

Dalam pidatonya yang panjang namun memikat, Anwar menegaskan bahwa persoalan ekonomi adalah “titik lemah” umat Islam yang harus segera ditutup, termasuk oleh Muhammadiyah melalui langkah-langkah serius dalam dunia bisnis dan pemberdayaan ekonomi.

Pidato dibuka dengan kisah personal Anwar Abbas tentang masa mudanya di tahun 1970-an, ketika sering berkunjung ke Tasikmalaya. Ia mengisahkan pengalaman lucu tentang salah paham bahasa Sunda—mengira pedagang yang berteriak “cai” sedang menjual makanan, padahal sedang menawarkan air minum. Dari cerita ringan itu, Anwar segera masuk pada isu besar yang ia sebut menggugah: problem ekonomi yang masih melemahkan umat.

Menurut Anwar, isu ekonomi bahkan menjadi salah satu faktor penyebab turunnya persentase umat Islam dari 95% saat Indonesia merdeka menjadi 86,8% hari ini. Ia mencontohkan kasus nyata di kampung halamannya di Sumatera Barat, ketika seorang siswa Madrasah Aliyah murtad karena tidak mampu melanjutkan pendidikan, lalu ditawari bantuan biaya oleh pihak agama lain.

“Imannya goyang karena ekonomi,” tegasnya. Ketika akhirnya ada tokoh Muhammadiyah yang menanggung seluruh biaya kuliahnya, anak itu kembali ke Islam. “Ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan ekonomi bagi generasi kita.”

Dalam konteks itu, Anwar mengingatkan bahwa Muhammadiyah selama ini dikenal dengan dua pilar besar—pendidikan dan kesehatan—namun dua pilar itu saja belum cukup mengantar pada kemandirian ekonomi. Padahal, peran Muhammadiyah sudah sangat besar, termasuk mendirikan sekolah di NTT, Sulawesi Utara, hingga Papua, yang murid-muridnya bahkan banyak berasal dari keluarga non-Muslim dan membayar biaya sekolah dengan hasil kebun seperti pisang. “Kalau tidak ada Muhammadiyah, mungkin mereka tidak bisa sekolah,” ujarnya.

Menariknya, di tingkat global, Muhammadiyah bahkan masuk daftar 10 organisasi terkaya di dunia dengan estimasi aset sekitar Rp400 triliun. “Tetapi itu belum seberapa,” kata Anwar, sambil membandingkan dengan individu seperti Prayogo Pangestu yang kekayaannya mencapai Rp500 triliun seorang diri. “Artinya, kekuatan kita masih sangat kecil jika dibandingkan skala nasional dan global.”

Karena itu, Anwar mendorong warga Muhammadiyah untuk berani masuk ke dunia bisnis. Ia menilai mentalitas warga Muhammadiyah masih didominasi employee mentality—ingin menjadi guru, PNS, polisi, atau pegawai—ketimbang entrepreneur mentality.

Padahal, dalam dunia usaha berlaku prinsip high risk, high return. Rendahnya jumlah warga Muhammadiyah yang menjadi pengusaha disebutnya sebagai hambatan besar menuju kemandirian.

Anwar kemudian mengutip berbagai kisah, termasuk empat prinsip etos bisnis etnis Tionghoa yang pernah disampaikan Deddy Corbuzier—menabung besar, menghindari utang berbunga, hidup sederhana, dan menjual barang dengan harga kompetitif. Semua itu menjadi refleksi agar umat Islam dapat menata ulang cara berpikir ekonominya.

Ia juga menegaskan pentingnya “hijrah mentalitas”, bukan pindah geografis, melainkan berpindah dari pola pikir statis ke pola pikir progresif. Bahkan ia membayangkan mimpi besar: suatu hari masyarakat dunia terbang dengan “Muhammadiyah Airlines” atau menginap di “Aisyah Resort”.

Menurutnya, mimpi itu bukan utopis. Banyak tokoh yang 30 tahun lalu bukan siapa-siapa, kini menjadi konglomerat besar. “Kesuksesan itu bisa dicapai, termasuk oleh Muhammadiyah,” tegasnya.

Pidato ditutup dengan mengajak seluruh warga Muhammadiyah, termasuk generasi muda di sekolah-sekolah seperti Al-Furqan, untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menjadi pelaku ekonomi yang menggerakkan kemajuan bangsa.

“Jika kita ingin nasib kita berubah,” ujarnya mengutip QS. Ar-Ra’d:11, “maka kitalah yang harus berusaha mengubahnya

Exit mobile version