MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Kerahkan Respons Nasional Hadapi Bencana Sumatera

64

Jakarta, panjimas — Gelombang bencana banjir bandang dan longsor besar yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak Rabu (26/11) terus menimbulkan dampak luas.

Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (5/12), jumlah korban meninggal dunia mencapai 836 jiwa, sementara 509 orang masih dinyatakan hilang. Ribuan lainnya mengalami luka-luka dan sebagian besar warga terdampak masih memerlukan bantuan mendesak.

Dalam siaran Ruang Publik TVMu edisi Sabtu (06/12) yang dipandu Arina Nurrohmah, BNPB sebelumnya juga melaporkan bahwa hingga 3 Desember 2025 korban meninggal tercatat 807 jiwa, 647 orang hilang, serta lebih dari 2.600 orang luka-luka. Jumlah pengungsi melonjak hingga 582.500 jiwa yang tersebar di tiga provinsi tersebut.

Kerusakan infrastruktur pun sangat parah. Sedikitnya 299 jembatan, 132 fasilitas peribadatan, dan 9 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Ribuan rumah warga terdampak dalam kategori rusak berat, sedang, maupun ringan. Sejumlah wilayah bahkan masih belum tersentuh bantuan karena akses darat terputus total.

MDMC Kerahkan Tim Nasional
Dalam dialog tersebut, Wakil Bendahara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Barori Budi Aji, memaparkan bahwa Muhammadiyah telah mengaktifkan One Muhammadiyah One Response untuk mengerahkan kekuatan nasional.

“Bencana kali ini termasuk salah satu yang terparah di Sumatra. Infrastruktur rusak berat dan banyak wilayah terisolasi. MDMC merespons cepat dengan pengiriman tim, logistik, dan layanan kesehatan,” ujar Barori.

Hingga awal Desember, MDMC telah:

menurunkan 55 personel awal, disusul gelombang dukungan dari Jawa,
mengoperasikan pos koordinasi di PWM Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,
menyiapkan 60 pos layanan kesehatan di tiga provinsi,
mengerahkan tim SAR untuk evakuasi korban,
menyalurkan bantuan logistik dan nonlogistik bagi 115.105 jiwa,
mendistribusikan 3.685 paket makanan melalui dapur umum,
memberikan pelayanan kesehatan kepada 397 jiwa.
Tim kesehatan Muhammadiyah dari berbagai daerah juga dikerahkan melalui jalur udara maupun darat. Beberapa tim dipusatkan di wilayah paling terdampak seperti Agam, Palembayan, dan kawasan sekitar Danau Maninjau yang hingga kini masih sulit diakses.

Barori menyebut, banyak titik hanya bisa ditembus menggunakan perahu melintasi Danau Maninjau karena akses darat tertutup longsor. Kondisi serupa juga terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.

Kerusakan Lingkungan Disorot
Dari perspektif ekologis, Hening Parlan, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa bencana ini bukan hanya akibat cuaca ekstrem, melainkan akumulasi kerusakan ekologis yang telah berlangsung lama.

“Apa yang kita lihat bukan fenomena alam biasa. Pohon-pohon besar hanyut bersama banjir bandang menunjukkan bahwa hulu sungai telah habis dikunduli. Ini alarm keras dari alam,” tegas Hening.

Ia memaparkan beberapa data penting:

Aceh kehilangan lebih dari 700.000 hektar hutan antara 1990–2020.
59% wilayah Aceh kini berada dalam zona rentan longsor dan banjir.
Sumatera Utara hanya menyisakan 29% tutupan hutan pada 2020.
Sumatera Barat kehilangan 31.367 hektar hutan dalam periode 2017–2020.
Ia menyebut penyebab utama adalah perkebunan monokultur (sawit), penambangan, pembalakan liar, dan ekspansi perumahan di lereng-lereng gunung, termasuk wilayah taman nasional.

“Indonesia sekarang menjadi juara dua kehilangan hutan tropis dunia. Ini bukan kebanggaan, tetapi peringatan keras. Ketika hulu rusak, banjir bandang dan longsor adalah konsekuensi langsung,” ujarnya.

Hening menekankan bahwa siklon dan cuaca ekstrem hanya menjadi pemicu; akar masalahnya adalah rusaknya penyangga ekologis di daerah aliran sungai.

Lazismu Pastikan Dukungan Pendanaan dan Logistik Mengalir ke Lapangan
Dari sisi pendanaan dan distribusi bantuan, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu, Ardi Luthfi Kautsar, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah memiliki sistem respon bencana yang terintegrasi.

“MDMC adalah garda lapangan, sementara Lazismu memastikan pendanaan, logistik, dan koordinasi publik berjalan lancar,” jelas Ardi.

Lazismu langsung mengalirkan dana tanggap darurat yang berasal dari:

dana zakat,
dana infak kemanusiaan,
serta donasi publik lainnya.
Lazismu juga telah mengirimkan makanan siap saji — termasuk produk RendangMu — melalui BNPB dan jalur darat, serta menyiapkan bantuan logistik tambahan untuk tahap berikutnya. Koordinasi dengan MDMC wilayah dilakukan untuk memetakan kebutuhan paling mendesak di zona bencana.

Acara Ruang Publik TVMu menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan organisasi kemanusiaan dalam merespons bencana Sumatra. Muhammadiyah melalui MDMC, Lazismu, dan Majelis Lingkungan Hidup berkomitmen untuk terus mengawal proses tanggap darurat, pemulihan, dan penguatan ketahanan lingkungan

Exit mobile version