Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan pihaknya telah menggelontorkan anggaran Rp 25,915 miliar untuk menangani satuan pendidikan yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera berupa dana operasional.
“Kami sudah memberikan bantuan untuk sekolah terdampak bencana, seluruhnya ada Rp 25,915 miliar,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam Konferensi Pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, (30/12/25).
Dia melanjutkan, Kemendikdasmen menilai, penanganan pendidikan di wilayah terdampak bencana tidak hanya menyangkut pemulihan fisik sekolah, tetapi juga mencakup aspek psikososial, sarana belajar, serta kesejahteraan guru.
“Oleh karena itu, bantuan yang disalurkan mencakup berbagai komponen penunjang pembelajaran darurat,” ucap Mu’ti.
“Selain Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan untuk wilayah lain yang terdampak bencana, termasuk Jawa Timur. Seluruh bantuan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kebutuhan di masing-masing daerah,” sambung dia.
Dalam penanganan awal, menurut Mu’ti, Kemendikdasmen menyalurkan berbagai sarana pendidikan darurat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak.
“Kita memberikan bantuan school kit, untuk di Aceh kita memberikan bantuan 15.500 paket, kemudian di Sumatera Barat 5.000 paket, Sumatera Utara 6.500 paket, jumlah total 27.000 paket,” ucap dia.
Selain school kit, lanjut Mu’ti, pemerintah juga menyediakan tenda dan ruang kelas darurat untuk menggantikan ruang belajar yang rusak akibat bencana.
“Kemudian tenda 78 di Aceh, 22 di Sumatera Barat dan 47 di Sumatera Utara, total 147 Tenda. Kemudian ruang kelas darurat ada 100 di Aceh, kemudian Sumatera Barat 30 Sumatera Utara 30 dan total 160 ruang kelas darurat,” terang dia.
Menurut Mu’ti, Kemendikdasmen juga menyalurkan dana operasional pendidikan darurat untuk mendukung keberlangsungan sekolah selama masa pemulihan.
“Dana operasional pendidikan darurat yang sudah kami serahkan untuk di Aceh Rp11,295 miliar, di Sumatera Barat Rp8,540 miliar, dan di Sumatera Utara Rp 6,080 miliar,” kata Mu’ti.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah turut memberikan dukungan psikososial bagi warga sekolah yang terdampak bencana.
“Kemudian dukungan Psikososial, untuk Aceh ada Rp 300 juta, Sumatera Barat Rp 200 juta dan Sumatera Utara Rp 200 juta total Rp 700 juta,” terang Mu’ti.
Untuk memastikan siswa tetap memiliki akses terhadap bahan ajar, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan ratusan ribu buku ke wilayah terdampak.
“Kemudian untuk bantuan buku, di Aceh kami telah memberikan bantuan untuk 90 ribu eksemplar buku, di Sumatera Barat 70 ribu eksemplar buku, dan di Sumatera Barat 50 ribu eksemplar buku, total 212 ribu eksemplar buku,” kata Mu’ti.
Menurut Mu’ti, selain untuk sekolah dan siswa, bantuan juga diberikan secara langsung kepada guru-guru yang terdampak bencana. Bantuan tersebut disalurkan melalui transfer langsung ke rekening masing-masing guru.
“Selanjutnya kami juga memberikan bantuan untuk guru-guru yang terdampak, total untuk Aceh grain totalnya adalah Rp 15,722 Miliar untuk 7.861 guru, kemudian di Sumatera Barat Rp 5,590 Miliar, untuk 2.795 guru, kemudian di Sumatera Utara Rp11,566 Miliar, untuk 5.743 guru,” terang dia.
Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan serupa untuk penanganan bencana di Jawa Timur.
“Kemudian Jawa Timur, Jawa Timur ini khusus untuk Lumajang Rp 56 Juta, untuk 28 guru,” kata Mu’ti.
Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan kepada guru terdampak mencapai Rp 32 Miliar.
“Totalnya adalah 16.467 guru yang menerima, dan total yang sudah kami salurkan Rp32,934 Miliar,” ucap Mu’ti.
Ia menegaskan, proses penyaluran bantuan masih terus berjalan.
“Ini transfer langsung ke rekening masing-masing guru dan sudah kami transfer, sekarang masih proses karena memang ada beberapa yang membutuhkan waktu cukup lama karena jumlahnya cukup besar, tapi ini bukan akan tapi sudah mulai proses kita transfer untuk guru-guru itu,” pungkas Mu’ti













