MuhammadiyahNasionalNews

Relawan Muhammadiyah Bukan Sekadar Aksi, Tapi Panggilan Jiwa

41
×

Relawan Muhammadiyah Bukan Sekadar Aksi, Tapi Panggilan Jiwa

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman terus berikan himbauan kepada masyarakat umum, sekaligus warga persyarikatan untuk terus bersama-sama membantu meringankan dan menolong para penyintas bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Hal itu Ia sampaikan dalam acara Pengajian dan Resepsi Milad ke-16 Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan, Universitas Ahmad Dahlan (PERSADA UAD) pada Kamis malam (8/1).

“Di Milad ke 113 Muhammadiyah, kita telah banyak sekali diberikan anugerah oleh Allah SWT, namun bersamaan dengan itu, Muhammadiyah saat ini sedang bersama-sama saudara kita di Aceh dan Sumatera, meringankan dan menolong mereka yang menjadi korban bencana alam,” jelasnya.

Kemudian, merujuk ke masa lampau, Agus menceritakan pengalaman Muhammadiyah ketika pertama kali menerjunkan tim relawan bencana di tahun 1919 ketika terdapat letusan gunung Kelud di Jawa Timur.

“Saat itu, KH Sudja mengusulkan kepada KH Ahmad Dahlan agar Muhammadiyah ikut mengirimkan bantuan ke Jawa Timur (saat itu tim relawan dinamakan Laskar Kyai Sudja). Maka sudah 100 tahun lebih Muhammadiyah hadir sebagai tim kebencanaan,” jelasnya.

Agus melanjutkan, kiprah dan pengalaman satu abad Muhammadiyah dalam dunia kerelawanan bencana telah memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekaligus prestasi tersendiri bagi Muhammadiyah.

Terbaru, Muhammadiyah melalui Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah telah menorehkan dampak nyata sekaligus terverifikasi internasional oleh World Health Organization (WHO).

“Yang menarik dari sini adalah tim relawan kita menjadi satu-satunya tim relawan internasional dari Indonesia yang terverifikasi WHO,” lanjutnya di hadapan para santri Mahasiswa PERSADA UAD.

Hal itu perlu disampaikan oleh dr. Agus agar menunjukkan bahwa kiprah-kiprah panjang nan nyata yang diberikan oleh Muhammadiyah dapat terus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.

Dihadapan para santri mahasiswa, ia mengajak untuk bersama-sama menyiapkan kepedulian kebencanaan dan menjadikannya sebagai panggilan jiwa yang telah tertuang dalam pengamalan Surah Al-Maun.

“Nabi bahkan telah mensaudarakan muslim itu seperti satu tubuh, yang kalau salah satu anggota tubuh itu sakit, semuanya akan merasakan sakit,” ucapnya.

“Maka kita harus terus bantu, kita harus terus berdoa dan bersaudaralah kamu seperti kedua tangan yang saling menggenggam, bukan seperti kedua telinga yang terletak terpisah tidak bisa saling menggenggam,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *