MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Dampingi Keluarga Rentan Stunting Menuju Hunian Sehat

35

Jakarta, panjimas — Rumah bilik sederhana di Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, menjadi saksi perjuangan hidup pasangan Heri Irawan dan Leni Lespinawati. Rumah itu terdiri atas ruang tamu kecil, dua kamar tidur tanpa dipan, serta dapur dan kamar mandi di bagian belakang.

Tak ada perabotan mewah di rumah tersebut. Kompor dua tungku yang berkarat berada di sudut dapur, sementara kamar mandi berdinding kayu dilengkapi kloset jongkok buatan sendiri dan sebuah bak plastik hitam. Peralatan makan tersusun di rak kayu kusam, dengan panci dan penggorengan yang menghitam tergantung di dinding dapur.

Senin (12/1) menjadi hari yang istimewa bagi Leni. Ia menyambut kunjungan rombongan Kemendukbangga/BKKBN yang dipimpin Menteri Wihaji. Leni tercatat sebagai calon penerima manfaat Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang bermitra dengan Lazismu.

Di hadapan Menteri, Leni bercerita tentang kondisi keluarganya. Heri, sang suami, bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan sekitar Rp400 ribu per minggu untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Keterbatasan ekonomi membuat pemenuhan gizi keluarga jauh dari kata cukup, terutama asupan protein hewani.

“Kalau tidak ada uang, kami makan seadanya,” tutur Leni. Sesekali ia terpaksa berutang di warung tetangga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari hingga suaminya menerima upah.

Anak-anak Leni juga harus berjalan kaki cukup jauh untuk bersekolah, tanpa bekal uang jajan. Jika pun ada, hanya Rp3.000 dan tidak setiap hari. Keluarga ini tidak memiliki kendaraan atau sepeda untuk menunjang aktivitas harian.

Kondisi tersebut menggambarkan realitas keluarga berisiko stunting (KRS) yang masih banyak dijumpai di berbagai daerah. Menurut Wihaji, faktor penyebab stunting sangat beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi, kurangnya asupan gizi, hingga akses air bersih dan sanitasi yang tidak memadai.

“Keluarga berisiko stunting membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, tidak hanya bantuan, tetapi juga edukasi dan penyuluhan,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami keluarga Hermawan dan Karyati di Desa Tugubandung. Hermawan bekerja sebagai buruh lepas dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan istri dan tiga anaknya. Keterbatasan ekonomi membuat pemenuhan gizi anak-anaknya sulit terpenuhi.

Karyati mengungkapkan bahwa untuk memasak saja ia masih mengandalkan kayu bakar karena tidak mampu membeli gas. Kondisi sanitasi rumah pun masih jauh dari standar sehat. Anak bungsunya bahkan mengalami gangguan kesehatan kulit, dengan ruam dan bintik hitam di kedua kakinya, yang kerap disertai demam dan rasa gatal.

Impitan Ekonomi dan Upaya Kolaborasi
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, yang turut mendampingi kunjungan tersebut, menyampaikan bahwa keluarga rawan stunting umumnya tidak memiliki lingkungan hunian yang layak dan sehat.

“Kondisi MCK yang tidak memenuhi standar, serta kualitas rumah tinggal yang kurang memadai, menjadi faktor penting yang perlu segera ditangani,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Kemendukbangga/BKKBN berencana melakukan renovasi dua unit rumah keluarga berisiko stunting tersebut dengan menggandeng mitra kolaborasi, salah satunya Lazismu. Program bedah rumah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan hunian yang lebih sehat dan layak bagi tumbuh kembang anak.

Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memanusiakan manusia dan melahirkan generasi yang sehat serta cerdas. Lazismu akan segera melakukan perencanaan pra-pembangunan dengan melibatkan berbagai pihak di lingkungan setempat, sebelum memulai proses renovasi rumah dalam waktu dekat.

Exit mobile version