Panjimas – Isra’ artinya berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sementara Mi’raj artinya adalah naik ke langit dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Jadi dari peristiwa ini terlihat ada dua bentuk perjalanan yang dilalui nabi dan yang juga akan kita lalui yaitu perjalanan yang bersifat horizontal dan vertikal.
Perjalanan yang bersifat horizontal adalah perjalanan duniawi kita dimana kita harus bekerja dan berusaha untuk mengurusi hidup dan kehidupan serta keduniaan kita tapi disisi lain kita juga harus mensubstansiasi dan memaknainya dengan sesuatu yang diharapkan dan diinginkan oleh yang Maha Tinggi dan Maha Mulia yaitu Allah Swt.
Ini artinya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, dalam bidang apapun itu termasuk dalam bidang ekonomi dan politik, kita harus mi’raj mengaitkan dan mengkomunikasikannya dengan Tuhan.
Kita harus berusaha untuk membuat semua yang kita lakukan dan kerjakan tersebut tidak bertentangan dengan keinginan dan kehendakNya. Apalagi kita tahu dalam perjalanan isra’ dan mi’raj itu salah satu tugas mulia yang didapat dan dijemput oleh Nabi Muhammad adalah perintah sholat dimana kita diwajibkan untuk mengerjakan ibadah tersebut 5 kali dalam sehari semalam.
Tidak peduli apapun jabatan dan tugas kita serta sesibuk apapun kita terlibat dalam urusan-urusan duniawi ini, bila telah tiba waktu sholat maka kita harus mengerjakannya. Dan Tuhan sudah menyatakan dalam firmannya seperti terdapat dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45, bahwasanya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Jadi orang yang sudah mengerjakan sholat itu diharapkan oleh Allah Swt akan bisa meninggalkan segala perbuatan keji dan munkar. Lalu bagaimana halnya jika hidup kita masih dihiasi oleh perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah swt ?
Itu suatu pertanda bahwa iman kita kepadaNya belum bersifat permanen. Imam Syafii mengatakan iman yang ada pada seseorang itu yazid wa yanqush masih turun naik. Bahkan terkadang benar-benar menghilang dari dalam diri seseorang untuk kemudian datang dan muncul kembali.
Hal itu terlihat jelas dalam hadis nabi yang mengatakan bila ada seseorang mencuri atau korupsi maka ketika dia melakukan praktek mencuri dan korupsi tersebut maka iman telah terbang dari dalam dirinya.
Disitulah kita lihat hikmahnya kita disuruh untuk mengerjakan sholat wajib 5 kali dalam sehari semalam agar kita dapat menjaga hubungan kita dengan Allah swt sehingga kita tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang tidak disukaiNya. Jika kita bisa melakukan hal demikian dengan baik maka kita tentu saja tidak hanya akan dicintai oleh Yang Ada di langit yaitu oleh Allah Swt tapi juga akan dicintai oleh yang ada di bumi yaitu oleh manusia dan makhluk lainnya.
Anwar Abbas
Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan
Wakil Ketua Umum MUI
