MuhammadiyahNasionalNews

Haedar Nashir : Umat Terbaik dalam Quran itu Bukan Hanya Ibadah dan Akhlak, Juga Muamalah Duniawiyah

30

Magelang, panjimas – Alih-alih membandingkan kuantitas atau jumlah, Muhammadiyah sejak awal konsisten membangun umat yang berkualitas. Tidak boleh banyak jumlah saja, tapi kehidupannya juga maju dan sejahtera.

Kalimat tersebut merupakan penyarian dari pidato yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (22/1) dalam Rakornas BSI di Kabupaten Magelang.

Sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi, Haedar memandang bangsa Indonesia memiliki kecenderungan untuk merendahkan mutu, dan lebih berbangga diri dengan capaian jumlah atau banyak-banyakan.

“(Bahkan) tidak peduli umat kita masih tertinggal. Muhammadiyah tidak ingin itu, dan ada banyak problem mentalitas kita. Kita harus ubah,” ungkap Haedar Nashir.

Muhammadiyah sejak awal memang selalu dihadapkan dengan ketimpangan yang ada di tubuh bangsa ini, termasuk ketimpangan ekonomi, kesehatan, sosial, dan seterusnya. Usaha memangkas ketimpangan sampai sekarang terus berlangsung.

Oleh karena itu, pada Milad ke-113 Muhammadiyah mengangkat tema Memajukan Kesejahteraan Bangsa. Sejahtera dalam sudut pandang siapapun, termasuk Muhammadiyah menyangkut lahir dan batin.

Artinya, kesejahteraan yang ingin diusahakan Muhammadiyah untuk bangsa dan umat Islam tidak hanya berkisar pada urusan-urusan spiritual semata, tapi juga urusan lahir atau yang lebih spesifik adalah materi maupun ekonomi.

Melihat jumlah umat Islam di Indonesia, Haedar mengatakan, memang jumlahnya besar tapi dari segi kesejahteraan ekonomi masih kecil. Sebaliknya, dengan jumlah tersebut umat Islam menyumbang angka kemiskinan paling banyak di Indonesia.

“Ini tidak dalam rangka primordial, tapi kategorisasi untuk kita bangkait. Tapi kalau menyangkut seratus orang yang miskin, insyallah 90 orang itu muslim. Ini rumus yang memang perlu menjadi agenda kita,” ungkapnya.

 

Setelah melihat persentase dan simpul-simpul kemiskinan itu, Haedar menyarankan supaya dunia perbankan memberikan dukungan dan memiliki konsentrasi tinggi untuk membangkitkan kesejahteraan bangsa yang merata.

 

Jika dilihat lebih dalam, menurut Haedar jenis usaha yang mendesak segera diberikan dukungan perbankan adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain proporsi perbankan yang masih kecil, UMKM menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Haedar Nashir pada kesempatan ini mengapresiasi pemerintah yang berkomitmen menciptakan kesejahteraan bangsa yang sejati. Namun pemerintah dan perbankan tidak cukup melakukan terobosan maupun gerakan yang sifatnya artificial.

 

Maka Muhammadiyah mendukung kebijakan ekonomi Indonesia yang substantif dalam memberikan keadilan, tidak boleh lagi 20 persen pengusaha menguasai 80 persen pembangunan dan kekayaan. Sementara 80 persen rakyat berebutan 20 persen kekayaan.

 

“Ini harus dibalik atau diseimbangkan. Saya yakin dalam konteks itu, keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia bisa kita wujudkan,” kata Haedar.

Merujuk Ali Imran ayat 110, Haedar tegas mengatakan, umat terbaik itu bukan hanya pada aspek ibadah dan akhlak, tapi juga muamalah duniawiyahnya. Dari perspektif itu, ulama sepakat bahwa kaidah urusan muamalah duniawiyah itu banyak bolehnya terkecuali ada dalil yang melarang

Exit mobile version