Jakarta, panjimas – Dr. Amirsyah Tambunan selaku Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga sebagai Sekretaris Dewan Syariah Nasional (DSN) menegaskan bahwa pentingnya melakukan literasi yakni kemampuan dalam mengolah, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis melalui aktivitas membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Hal ini disampaikan usai menerima Mohammad Ismail Riyadi, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Kepala Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rakyan Gilar Gifarulla dan Deputi Direktur Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Syariah (OJK) di Kantor DSN Jalan Dempo Menteng Jakarta Pusat, Rabu ( 28/1/26).
Silaturrahmi berlangsung penuh keakraban dan produktif yang langsung di pimpin Ketua DSN KH.Cholil Nafis, PhD yang juga wakil Ketua Umum MUI. Amirsyah menekankan pentinya memperkuat cakupan literasi keungan syariah, saat ini masih tergolong rendah bila dibanding dengan tingginya pengguna internet di Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 225 hingga 230,4 juta jiwa, dengan tingkat penetrasi mencapai lebih dari 80% dari total populasi.
Buya Amirsyah panggilan akrab Sekjen MUI menegaskan bahwa OJK bersama DSN serta industri keuangan syariah lainnya bertekad memanfaatkan peluang ini sebagai salah satu pasar digital terbesar di dunia, dengan generasi muda (Gen Z & Milenial) sebagai pengguna paling aktif.
Pertama, menurut data pengguna internet Indonesia 2025 mencapai 229,42 juta jiwa per Agustus 2025 (data APJII) atau menurut data Kepios yakni berfokus menyediakan data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data, baik untuk perencanaan strategis maupun konten sekitar 230,4 juta jiwa per Oktober 2025 melalui pengguna Internet 80,66% dari total populasi penduduk Indonesia sudah terhubung Internet tertinggi Generasi Z (87,80%) dan Milenial (89,12%) memiliki tingkat penetrasi tertinggi.
Sedangkan kategori menggunakan internet untuk pertama, media sosial (24,80%); kedua, berita (15,04%), ketiga; transaksi daring (14,95%), dan hiburan melaui perangkat seluler (mobile) menjadi akses utama, dengan banyak pengguna memanfaatkan WiFi.
Secara demografi untuk kategori gender internet terdiri dari; pertama, 51% laki-laki dan kedua, 49% perempuan. Flalform digital sebanyak 108 juta penduduk menggunakan TikTok pada awal 2025.
Oleh karena itu Amirsyah menekankan pentingnya peningkatan Inklusi yakni pendekatan untuk memastikan semua orang, termasuk kelompok terpinggirkan, memiliki akses, partisipasi, dan kesempatan setara dalam masyarakat tanpa terkecuali agar ketercakupan pada keberagaman di semua lingkungan.
“Untuk memenuhi kebutuhan dasar semua individu agar memiliki kesadaran yang kuat untuk mencegah moral hazard adalah risiko di mana satu pihak mengambil tindakan berisiko atau berperilaku menyimpang,” pungkasnya.













