MuhammadiyahNasionalNews

Manhaj, Manajemen, Man Power: Tiga Sumber Kekuatan Muhammadiyah

106

Jakarta, panjimas – Rapat Kerja Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tegalsari Surabaya menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus merencanakan program kerja serta mengembangkan kaderisasi guna mengoptimalkan gerakan dakwah Muhammadiyah.

Hal tersebut disampaikan Ketua PCM Tegalsari Surabaya Sofyan Affandy Yusuf saat memberikan sambutan dalam kegiatan Rakerpim dan Kaderisasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tegalsari Surabaya.

 

 

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Muhammadiyah Training Center (MTC) Wonosalam, Jombang, pada Sabtu hingga Ahad (31–1/2/2026).

 

Sofyan Affandy Yusuf menegaskan bahwa amanah sebagai pimpinan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Melalui sinergi dan penguatan kaderisasi, dakwah Muhammadiyah diharapkan dapat berjalan berkelanjutan dan semakin kuat.

 

Sementara itu, Bendahara Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Musa Abdullah dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Rapat Kerja PCM Tegalsari Surabaya. Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan kebijakan yang bernilai besar sebagai ladang amal dan ladang jihad.

 

“Dengan berazam dan bertawakal kepada Allah, mari kita tingkatkan sinergitas dalam berorganisasi demi memajukan kesejahteraan PCM dan AMM Tegalsari Surabaya,” ujarnya.

 

Pada kesempatan tersebut, Musa Abdullah juga menyampaikan pesan KH Mas Mansur, “Jangan lelah bermuhammadiyah, meski Muhammadiyah melelahkan.”

 

Pesan tersebut mengandung makna bahwa dalam berorganisasi pasti ada konflik, kelelahan, dan kekecewaan. Kesetiaan, menurutnya, tidak diuji saat senang, tetapi justru saat berada dalam kondisi berat.

 

Dia juga mengutip pesan KH Mas Mansur lainnya, “Muhammadiyah bukan milik perorangan, tetapi milik umat.” Pesan tersebut mengingatkan agar tidak ada sikap merasa paling berjasa, serta setiap keputusan yang diambil harus berpihak pada kemaslahatan jamaah.

 

Sebagai narasumber, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Dr M Sholihin Fanani menyampaikan materi bertema Penguatan Ideologi dan Manhaj Muhammadiyah. Ia mengungkapkan masih adanya problem minimnya pemahaman tentang Muhammadiyah, yang berdampak pada lemahnya kecintaan dan kesulitan menggerakkan dakwah Muhammadiyah.

 

Menurutnya, Muhammadiyah yang telah memasuki usia 116 Hijriah atau 113 Masehi harus terus berkembang agar semakin kuat, semakin semangat, dan semakin bermanfaat bagi umat.

 

Dia menegaskan bahwa seluruh warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab yang sama agar persyarikatan ini mampu bertahan dan terus berkembang. Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki inner dynamic berupa ruhul jihad untuk memperjuangkan Islam bukan demi kepentingan pribadi, tetapi kepentingan organisasi.

 

Selain itu, nilai ajaran Islam harus diamalkan dengan sebaik-baiknya, disertai keikhlasan, militansi, serta prinsip gerakan yang dijalankan secara amanah.

 

Sumber energi Muhammadiyah tersebut berfungsi sebagai sumber ideologi, inspirasi, motivasi, aktualisasi, orientasi, dan kolaborasi, sehingga Muhammadiyah terus bergerak mencapai misi dan tujuannya dengan penuh kegigihan.

 

Ia juga menekankan pentingnya peran setiap pimpinan dalam melahirkan kader-kader pemimpin yang lebih baik, terutama dari kalangan anak-anak sendiri.

 

Kekuatan Muhammadiyah, lanjutnya, terletak pada manhaj dalam memahami agama, man power berupa hadirnya kader-kader militan, serta manajemen dengan tata kelola organisasi yang amanah.

 

“Tujuan berdirinya Muhammadiyah adalah memerangi kebodohan dan kemiskinan, memurnikan ajaran Islam, membentuk manusia seutuhnya, serta membendung pengaruh negatif dari luar,” tutur doktor lulusan Unair tersebut.

 

Ia menutup materinya dengan lima cara bermuhammadiyah, yakni berislam secara kaffah, berorganisasi dengan amanah, berdakwah dengan istiqamah, berjuang dengan sabar, serta berkurban dengan ikhlas.

 

Narasumber lainnya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur M Khoirul Abduh, mengupas tentang profil kader Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa terdapat empat kompetensi utama kader Muhammadiyah, yaitu keberagamaan, akademik dan intelektual, sosial kemanusiaan dan kepeloporan, serta keorganisasian dan kepemimpinan.

 

Menurutnya, kader Muhammadiyah harus berkemajuan sebagaimana teladan KH Ahmad Dahlan yang menghadirkan keberagamaan yang tercerahkan. Kader Muhammadiyah juga dituntut berkualitas agar mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan

Exit mobile version