Jakarta, panjimas – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan dukacita dan keprihatinan yang mendalam atas wafatnya salah satu murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan pihaknya memandang peristiwa tersebut sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.
“Kemendikdasmen menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya salah satu murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT. Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak,” seperti disampaikan rilis Kemendikdasmen di Jakarta pada Rabu sore.
Ia menerangkan mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang bantuan dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.
Saat ini, pihaknya melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.
Selain itu, kemendikdasmen akan koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan.
Ia mengatakan peristiwa itu juga menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
Menurutnya, satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi informasi secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah,” pungkasnya
