NasionalNews

Lahirnya KHGT adalah Konsekuensi Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid dan Ilmu

106
×

Lahirnya KHGT adalah Konsekuensi Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid dan Ilmu

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Puasa Ramadan 1447 H oleh Muhammadiyah ditetapkan jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Ketetapan ini mengikuti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief berpesan kepada seluruh warga Muhammadiyah untuk mengikuti keputusan – jika yang lain mengikuti keputusan ini juga sangat diperbolehkan.

“Ini adalah sebuah keputusan yang dirumuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagaimana orang lain juga memutuskan secara politik rumusan tentang sistem penanggalan mereka,” kata Hilman pada Jum’at (13/2) dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah.

Hilman berharap, umat Islam dapat bersatu dalam penanggalan atau kalender – sebagaimana umat beragama lain yang memiliki satu kalender sehingga agenda-agenda besar mereka bisa diselenggarakan bersama-sama.

Merujuk Risalah Islam Berkemajuan, Hilman menjelaskan, keislaman yang dijalani Muhammadiyah ini berdasar pada keilmuan – bukan hasrat, ataupun perasaan saja. Dari situ maka KHGT merupakan konsekuensi logis Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu.

Mengingat kalender menjadi landasan orang untuk beraktifitas, maka kepastian harus dijaminkan. Sehingga kehidupan bisa berjalan secara sistematis, sekaligus juga bisa membangun kesepakatan bersama jika memiliki satu kalender tunggal.

Selain KHGT, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga melakukan koreksi waktu subuh di Indonesia. Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, waktu subuh di Indonesia harus mundur delapan menit.

Koreksi waktu ini juga sempat menjadi polemik, sebab muslim Indonesia sudah bertahun-tahun dan terbiasa mengacu pada waktu yang biasa digunakan di Indonesia pada umumnya.

“Yang penting kita sepakat. Tentu dengan KHGT ini juga belum disepakati banyak orang, tetapi warga Muhammadiyah setidaknya tahun seperti apa misinya,” ungkapnya.

Semangat Tajdid untuk Inovasi Berkelanjutan

Sementara itu terkait dengan perubahan dari Wujudul Hilal ke KHGT, Hilman menjelaskan hal itu sebagai konsekuensi organisasi yang memiliki semangat tajdid – untuk berijtihad dalam melakukan pembaruan.

Semangat tajdid menurut Hilman mendorong Muhammadiyah untuk melakukan sustainable innovation (inovasi berkelanjutan). Inovasi di tubuh Muhammadiyah tidak boleh berhenti, namun tetapi pada bingkai dan pijakan keilmuan yang kuat.

“Ini membuktikan bahwa Muhammadiyah terus berkembang, terus bergerak, dan di dalam ilmu tidak ada yang final,” katanya.

Oleh karena itu Hilman Latief mengapresiasi Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang mengemban amanah pembaruan, termasuk dengan lahirnya KHGT sebagai upaya menyatukan umat Islam secara global.

Akan tetapi tantangan masih menyelimuti KGHT, khususnya ketika terjadi perbedaan dengan Arab Saudi dalam penetapan 9 Zulhijjah. Pasalnya, mayoritas keberagamaan muslim di Indonesia masih dituntun hasrat atau perasaan dan terkesan mengesampingkan ilmu.

“Itulah dinamikanya. Tetapi perasaan-perasaan seperti itu tentu nanti kita kikis, karena keyakinan ini tetap harus didukung oleh ilmu pengetahuan yang kuat,” katanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *