BeritaMuhammadiyahNews

Muhammadiyah Resmikan Tahap 3 SPPG di Medan, Perluasan Layanan Gizi Harus Bermutu dan Berkelanjutan

43
×

Muhammadiyah Resmikan Tahap 3 SPPG di Medan, Perluasan Layanan Gizi Harus Bermutu dan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Kampus IV Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Umus), Senin (16/2/26), menjadi saksi langkah lanjutan Muhammadiyah dalam memperluas layanan pemenuhan gizi masyarakat.

Melalui Koordinator Nasional Program Makan Bergizi Muhammadiyah (Kornas MBM), Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan tahap ketiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagai bagian dari penguatan sistem layanan yang dibangun secara bertahap dan terukur.

Sejumlah tokoh nasional dan daerah hadir dalam momentum tersebut, di antaranya Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Sony Sonjaya, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Rektor Umsu Agussani, Wakil Gubernur Sumatra Utara Surya, serta jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan PimpinanWilayah Aisyiyah (PWA) Sumatra Utara.

Rangkaian acara diawali dengan pemutaran video proses pembangunan SPPG dan capaian program yang telah berjalan. Tayangan itu memberi gambaran bahwa program ini tumbuh bukan secara instan, melainkan melalui proses konsolidasi yang terus diperkuat dari waktu ke waktu.

Menurutnya, pertumbuhan program tidak semata diukur dari jumlah layanan yang bertambah, tetapi dari kesiapan lapangan serta kualitas pelaksanaannya.

Data yang dipaparkan Yamin menunjukkan skala program yang kian meluas. Saat ini, terdapat 221 unit SPPG yang dikelola Kornas MBM PP Muhammadiyah, terdiri atas 126 unit operasional, 80 unit dalam proses verifikasi dan validasi, serta 15 unit yang masih berada pada tahap persiapan.

Program ini telah menjangkau 276.680 penerima manfaat dan melibatkan 5.591 tenaga kerja, didukung 238 ahli gizi dan akuntan untuk menjaga kualitas layanan dan akuntabilitas pengelolaan.

Dari sisi sebaran, layanan SPPG sudah hadir di 18 provinsi, meliputi 99 kabupaten atau kota serta 183 kecamatan, dengan dukungan ekosistem lahan lebih dari satu juta meter persegi. Bagi Yamin, hal itu menunjukkan bahwa layanan gizi tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan dan melibatkan tenaga profesional.

Ia menegaskan, perluasan layanan harus berjalan seiring dengan mutu dan integritas penyelenggaraan. Tiga pilar menjadi pegangan utama program, yakni keamanan makanan yang halal dan tayyib, profesionalisme yang amanah sesuai standar prosedur, serta pembangunan ekosistem berkelanjutan agar layanan mampu berdiri mandiri dan tidak bergantung pada satu sumber daya saja.

Momentum peresmian ditandai dengan pemukulan tagading sebagai simbol dimulainya penguatan layanan tahap ketiga. Suasana khidmat berubah menjadi optimistis ketika pesan-pesan tentang pentingnya pemenuhan gizi sebagai fondasi pembangunan manusia kembali ditegaskan.

Dukungan Muhammadiyah

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Mu’ti menyoroti dukungan Muhammadiyah terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, dukungan itu telah diwujudkan secara nyata melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional yang disepakati dalam forum Tanwir Muhammadiyah di Kupang.

Mu’ti memandang program makan bergizi sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi yang kuat secara fisik sekaligus intelektual. Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep Islam bastatan fil ‘ilmi wal jism, yang menekankan keseimbangan antara ilmu dan kekuatan raga.

Dalam konteks kekinian, ia menilai kesehatan, kebugaran, ketahanan mental, serta kebiasaan hidup sehat menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang siap belajar, bekerja, dan berkontribusi.

Karena itu, menurutnya, makanan bergizi tidak boleh dipandang sekadar intervensi kesehatan jangka pendek, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Sebagai penutup rangkaian acara, Abdul Mu’ti menyerahkan buku terbarunya berjudul Makan Bergizi Gratis Perspektif Islam dan Pendidikan kepada sejumlah tokoh yang hadir. Penyerahan buku tersebut menjadi simbol penguatan literasi sekaligus dorongan agar program pemenuhan gizi berjalan seiring dengan penguatan gagasan dan nilai pendidikan.

Dengan jaringan layanan yang terus bertambah dan dukungan sumber daya yang semakin luas, Muhammadiyah berharap SPPG bukan hanya menjawab kebutuhan harian masyarakat, tetapi juga menjadi simpul ekosistem sosial yang menopang keberlanjutan program pemenuhan gizi di berbagai daerah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *