Jakarta, panjimas – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food waste) terbesar di dunia, sering kali menempati peringkat ke-2 hingga ke-5 dengan timbunan sampah mencapai 14,7 hingga 48 juta ton per tahun.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ahmad Al-Jufri saat memberikan sambutan dalam acara Musyawarah Daerah (Musda) ke VII Majelis Uama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tenggara di Hotel Zahra (15/2/26).
Dr.Amirsyah Tambunan selaku Sekjen MUI langsung merespon hal tersebut agar semua pihak untuk memperkuat rasa tangung jawab dalam beragama (mas’uliyah diniyah) dengan cara memulikan lingkungan Hidup sejalan dengan Fatwa MUI No 41 tahun 2014
Namun ia mengingatkan hingga saat ini sisa makanan ini berasal dari perilaku konsumen, restoran, dan hotel, yang berkontribusi pada kerugian ekonomi senilai ratusan triliun rupiah, emisi metana, bahkan menyebabkan terjadi krisis lingkungan.
Berdasarkan data sejumlah negara dengan sampah makanan tertinggi meliputi Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brasil, dan Indonesia sering disebut sebagai negara pembuang makanan terbesar ke-2 (berdasarkan studi Bappenas) atau ke-5 (menurut laporan UNEP) di dunia.
Setidaknya ada dua dampak yang di timbulkan; pertama, dampak negatinya makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) menghasilkan gas metana dan CO2, yang dapat memicu krisis iklim; kedua, limbah ini mencerminkan inefisiensi ekonomi yang signifikan (kerugian 4-5% dalam data PDB nasional).
Buya Amirsyah mengingatkan bahwa terdapat anomali sikap beragama yang telah mengharamkan perbuatan mubazir. Namun ada faktor lain yakni kebiasaan menyisakan makanan, pembelian berlebihan, salah memahami label kedaluwarsa, dan kurangnya pemanfaatan sisa makanan menjadi faktor utama memicu sikap yang mubazir.
Pertanyaannya bagaimana strategi agar tidak terjadi makanan berlebihan? Tentu memerlukan kolaborasi dari pemerintah, pelaku bisnis (perhotelan/restoran), dan kesadaran individu untuk menghargai makanan sehingga tidak terjadi pemborosan (mubazzir).
“Jadi ada stretegi dari hulu untuk mengedukasi masyarakat agar memilah dan memilih sampah yang produktif untuk di daur ulang,” pungkasnya













