BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Bulan Ramadan Kesempatan Install Ulang Spiritual

64
×

Bulan Ramadan Kesempatan Install Ulang Spiritual

Sebarkan artikel ini

Oleh : Moh. As Syakir Hasbullah, Pengasuh Mudabo Boarding School dan Imam Masjid Ahmad Dahlan Sumodikaran Bojonegoro

Jakarta, panjimas — Bulan Ramadan adalah anugerah agung yang tidak selalu Allah berikan kepada setiap hamba. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersujud bersama kita, namun hari ini telah berpulang ke haribaanNya sebelum sempat menghirup kembali aroma keberkahan bulan ini.

Maka ketika Allah masih memperkenankan kita menghela napas hingga Ramadan tiba, sejatinya itu adalah tanda cinta.

Ini adalah kesempatan emas untuk membasuh jiwa yang berdebu dan memperbaiki diri yang penuh cela.

Seorang mukmin selayaknya menyambutnya dengan buncah kegembiraan—bukan sekadar karena tradisi, melainkan karena bulan Ramadan adalah momentum ilahi. Ruang istimewa untuk meningkatkan iman, melipatgandakan amal, dan menjemput ampunan.

Perbaikan Spiritual

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah: 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.

 

Ayat ini menegaskan, muara dari ibadah puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan lahirnya ketakwaan.

Takwa adalah kualitas batin yang memancar dalam perilaku. Ia tampak pada kejujuran saat tak ada yang melihat, kesabaran dalam ujian, serta pengendalian diri dari syahwat.

Puasa yang sejati adalah puasa totalitas: menahan lisan dari dusta, mata dari maksiat, hati dari dengki, dan diri dari segala yang tidak diridaiNya.

Salah satu kemurahan Allah di bulan ini adalah ampunan yang tumpah ruah. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menunjukkan bulan Ramadan adalah kesempatan install ulang spiritual manusia. Kesalahan masa lalu dapat dihapus, dosa dapat diampuni, dan hidup dapat dimulai kembali dengan lebih baik. Sungguh merugi orang yang melewati Ramadan tanpa perubahan diri, tanpa taubat, dan tanpa peningkatan amal.

Dua Kebahagiaan dan Pintu Eksklusif

Rasulullah Saw menggambarkan keindahan bagi mereka yang berpuasa

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jika kebahagiaan berbuka adalah kenikmatan fisik yang sesaat, maka kebahagiaan bertemu Allah adalah puncak kemuliaan abadi.

 

Tak hanya itu, Allah memberikan penghormatan luar biasa bagi ahli puasa dengan menyediakan pintu khusus di surga yang disebut Ar-Rayyan. Rasulullah Saw bersabda:

 

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

 

Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun selain mereka yang boleh masuk melaluinya. Lalu ada seruan: ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun berdiri, selain mereka tidak ada yang boleh masuk. Jika mereka telah masuk, pintu itu ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang bisa masuk melaluinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah penghormatan eksklusif bagi mereka yang rela menahan haus dan lapar dan menjauhi hal-hal yang dilarang syariat demi menaati perintah Allah Swt.

Madrasah Perubahan Diri

Bulan Ramadan sejatinya adalah madrasah ruhani yang melatih disiplin dan empati. Agar tak sekadar mendapat lapar, mari kita jadikan bulan ini sebagai ajang muhasabah untuk memperbaiki kualitas salat agar lebih khusyu.

Mempererat interaksi dengan Al-Qur’an agar tidak sekadar dibaca namun dipahami, membenahi akhlak kepada sesama, serta berazam kuat untuk meninggalkan dosa-dosa yang selama ini membelenggu.

Keberhasilan di madrasah ini tidak diukur dari seberapa meriah kita merayakan puncaknya, melainkan dari seberapa konsisten kita menjaga bekas-bekas kebaikan itu di luar Ramadan.

Jika setelah bulan ini kita menjadi lebih ringan melangkah ke masjid, lebih lembut dalam bertutur kata, dan lebih takut untuk berbuat maksiat, maka itulah tanda bahwa puasa kita telah membuahkan hasil.

Ramadan bukanlah pemberhentian sesaat, melainkan tempat pengisian energi untuk menempuh perjalanan panjang di sebelas bulan berikutnya.

Marilah kita sambut tamu agung ini dengan kesungguhan. Jangan biarkan ia berlalu seperti bulan-bulan biasanya.

Jadikan ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita. Bulan Ramadan yang penuh dengan sujud yang panjang, tadarus yang mendalam, dan sedekah yang tulus.

Semoga Allah Swt mengaruniakan kita kekuatan lahir dan batin, serta keistikamahan untuk mengisi setiap detik di bulan suci ini dengan ketaatan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *