BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Ekoteologi Muhammadiyah: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Dua Kutub Ekstrem

80
×

Ekoteologi Muhammadiyah: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Dua Kutub Ekstrem

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., membuka Kajian Ramadan 1447/2026 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang mengangkat tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan.

Ia hadir sebagai keynote speaker melalui Zoom Meeting pada kegiatan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Jawa Timur, Sabtu (21/2/2026).

Kajian Ramadan PWM Jawa Timur ini berlangsung selama dua hari, 21–22 Februari 2026, bertepatan dengan 4–5 Ramadan 1447. Meski tidak hadir secara langsung, Haedar menyampaikan pandangan strategis tentang relasi teologi Islam, pengelolaan alam, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Di awal paparannya, Haedar mengutip Al-Baqarah 29. Ia menegaskan bahwa seluruh yang ada di bumi merupakan anugerah Allah untuk manusia. Mengacu pada Tafsir At-Tanwir karya Tim Tafsir Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, ayat tersebut dipahami sebagai pandangan Al-Qur’an yang bersifat kesemestaan.

“Ayat ini memberi pesan teologis tentang kehidupan bahwa Allah telah menganugerahkan segala yang ada di bumi untuk dimanfaatkan,” ujarnya.

Haedar menegaskan, perspektif tersebut menuntun manusia membangun kehidupan dunia secara bermartabat dan berkemajuan. Menurutnya, manusia tidak diperintahkan menjauhi dunia, melainkan mengelolanya dengan kesadaran sebagai khalifah.

“Kita hidup di dunia ini bukan untuk menghindari dunia atau bersikap antidunia, tetapi untuk menjalani kehidupan dunia dengan peran dan fungsi kekhalifahan,” tegasnya.

Ia kemudian merujuk Hud ayat 61 (waista‘marakum fiha) yang menegaskan mandat ilahiah manusia untuk memakmurkan bumi. Memakmurkan, kata Haedar, berarti mengelola sumber daya secara optimal demi kesejahteraan manusia.

“Memakmurkan berarti mengolah sedemikian rupa untuk kesejahteraan hidup manusia, bukan dibiarkan, tetapi dimanfaatkan,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa upaya memakmurkan bumi harus tetap berada dalam koridor ajaran Islam, yakni tanpa merusak.

“Bumi harus dibangun dengan bermartabat dan berkemajuan. Bangun dan kelola, tetapi jangan dirusak,” tegas Haedar.

Menurutnya, tantangan utama umat hari ini bukan sekadar membangun, melainkan bagaimana membangun tanpa merusak. Karena itu, diperlukan konsep, ilmu, dan kebijakan yang matang agar pembangunan tetap berada dalam koridor nilai dan tanggung jawab

Dua Kutub Ekstrem

Haedar mengingatkan agar umat tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Kutub pertama adalah pembangunan yang eksploitatif dan merusak. Kutub kedua adalah sikap membiarkan alam tetap lestari tanpa sentuhan manusia.

“Kalau tidak disentuh memang terlihat bagus, tetapi manusia tidak akan sejahtera dan tidak makmur,” ujarnya.

Untuk memudahkan pemahaman, Haedar menyampaikan analogi sederhana.

kelestaria

“Kalau tidak ingin tersandung, jangan berjalan. Tetapi kalau tidak berjalan, kita tidak akan sampai tujuan. Maka berjalanlah, namun dengan hati-hati,” tuturnya.

Analogi tersebut menegaskan bahwa pembangunan adalah keniscayaan. Risiko selalu ada, tetapi bukan alasan untuk berhenti bergerak. Yang diperlukan adalah kehati-hatian, perencanaan matang, serta kebijakan yang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian.

Haedar juga mengkritik praktik kapitalisme serakah yang, menurutnya, kerap melahirkan kerusakan lingkungan dan bahkan berkelindan dengan praktik penjajahan modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *