Yogyakarta, panjimas – Semangat gerakan pembaruan yang tumbuh di Muhammadiyah memiliki mata rantai dengan semangat kelompok salaf era Khulafaur Rasyidin, Ibnu Taimiyah (1263-1328), Muhammad bin Abdul Wahab (1701-1793), dan Muhammad Abduh (1849-1905).
Meski demikian, menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, semangat pembaruan yang dimiliki Muhammadiyah memiliki distingsi atau kekhasan daripada semangat pembaruan oleh gerakan Islam yang dibawah para tokoh tersebut.
Membedah Akidah Islam Berkemajuan, Haedar menjelaskan, jejak genealoginya dapat ditemukan sampai pada Nabi Muhammad. Sebab, semangatnya merujuk kembali pada Al Qur’an dan Sunnah. Genealogi ini yang mempertemukan Muhammadiyah dengan gerakan pembaruan Islam lainnya.
Genealogi pemikiran Muhammadiyah juga dapat ditemukan persinggungannya dengan Ibnu Taimiyah. Semangat pembaruan yang dilakukan Ibnu Taimiyah memiliki corak khas. Pembaruannya dilakukan sebagai respons terhadap konteks sosial dan politik yang terjadi pada masa itu.
“Pasca kekalahan Baghdad, tradisi Islam kuat dipengaruhi Mongol yang lebih kepada hal-hal yang mitologis,” ungkap Haedar pada Jumat (20/2) dalam Pembukaan Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Tradisi mitologis dari Mongol hanya satu dari sekian masalah umat Islam masa itu. Tradisi lain yang melenceng di umat Islam adalah pengagungan kuburan para tokoh berpengaruh. Dalam upaya memurnikan ajaran Islam, kata Haedar, Ibnu Taimiyah kemudian menulis Kitabul Iman.
“Latar belakang ini menguatkan alasan Kitabul Iman untuk memurnikan ajaran Islam sebagaimana gerakan salafi awal,” ungkapnya.
Dari Ibnu Taimiyah ke Muhammad bin Abdul Wahab
Kitabul Iman ini ratusan tahun kemudian menginspirasi Muhammad bin Abdul Wahab untuk menulis Kitabut Tauhid pada awal abad ke-19, yang sampai pada sekarang menjadi rujukan kelompok Salafi, termasuk yang di Indonesia, India, Pakistan, dan negara-negara lainnya.
Gerakan pembaruan Islam yang diusung oleh Muhammad bin Abdul Wahab juga tidak sama persis dengan yang dibawah oleh Ibnu Taimiyah. Perbedaan itu terjadi disebabkan latar belakang umat Islam yang marak melakukan syirik, tabarruk, dan penyimpangan akidah.
Selanjutnya, tradisi pembaruan yang beririsan dengan Muhammadiyah adalah Muhammad Abduh. Tulisan-tulisan Abduh ini juga bersentuhan langsung dengan Kiai Ahmad Dahlan. Terlebih Majalah Urwatul Wustha yang berisi semangat pembebasan dari penjajahan Barat berhasil disebarkan ke seluruh dunia Islam.
Majalah Urwatul Wustha yang diterbitkan Muhammad Abduh dengan Jamaluddin Afghani pada tahun 1884 jadi bacaan penting tokoh pergerakan Islam di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia. Konteks yang terjadi adalah terkungkungnya dunia Islam oleh imperialis dan kolonialis Barat.
“Dari situ kemudian api pembaruan Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia dan Muhammadiyah kerap dihubungkan dengan semangat pembaruan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh,” imbuh Haedar.
Haedar menjelaskan, semangat pembaruan Islam ini pengaruhnya tidak bisa dinafikan ke berbagai gerakan pembaruan Islam termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta supaya tidak memperlakukan tokoh-tokoh pembaruan ini secara peyoratif dengan label-label yang seakan mengecilkan peran para tokoh itu.
Kekhasan Muhammadiyah Dibandingkan Gerakan Pembaruan Islam Lain
Meskipun Muhammadiyah memiliki mata rantai dengan pembaruan Islam sebelumnya, Haedar menegaskan, Muhammadiyah yang didirikan Kiai Dahlan memiliki distingsi atau kekhasan. Salah satu kekhasan yang paling mencolok adalah perhatian Muhammadiyah untuk gerakan perempuan.
Mengutip tesis Prof. Mukti Ali, Haedar menjelaskan, perbedaan itu adalah ketika Muhammadiyah mendirikan gerakan Perempuan Islam Berkemajuan yaitu ‘Aisyiyah. Perhatian terhadap perempuan sebenarnya tidak asing di dunia Islam, namun baru sebatas pemikiran dan diskusi yang hidup.
Selain ‘Aisyiyah, kekhasan lainnya adalah lahirnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang beretos pada Surat Al Ma’un. Kedua hal ini menjadi gagasan baru di dunia Islam, sebab tidak ada gerakan pembaruan Islam yang kemudian memiliki jejak dalam bentuk pelayanan dan kesetaraan dalam aksi nyata.
“Ada mata rantai tersambung antara Muhammadiyah dengan pemikiran gerakan pembaruan Islam sebelumnya. Namun juga ada kekhasan atau distingtif yang berbeda – dan itu tidak ditemukan akarnya dari pemikiran Islam sebelumnya,” pungkas Haedar













