Yogyakarta, panjimas– Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berlangsung selama tiga hari, Jumat–Ahad (20–22/2), di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan pentingnya penguatan akidah sebagai pondasi Gerakan Islam Berkemajuan.
Menutup rangkaian pengajian, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, mengajak jamaah untuk mengulas kembali pokok-pokok kajian dalam tajuk besar Akidah Islam Berkemajuan.
Agung menegaskan bahwa basis ilmu kalam Muhammadiyah berada dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang memiliki kedekatan dengan paham Asy’ariyah. Dalam pandangan tersebut, Allah diimani memiliki sifat-sifat, namun tanpa menyerupakan dengan makhluk (bila kaifa wala tasybih). Artinya, sifat-sifat Allah diyakini sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya.
Ia menyebut, dalam aspek ketuhanan, Muhammadiyah cenderung bersikap tekstual dan berhati-hati, tetap berada dalam koridor akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Adapun terkait konsep usaha manusia (kasb), Muhammadiyah memandang manusia memiliki ikhtiar untuk berusaha secara maksimal, meskipun pada akhirnya ketetapan tetap berada di tangan Allah. Manusia juga dianugerahi potensi akal untuk menelaah ciptaan-Nya, sekalipun akal memiliki keterbatasan dalam memahami alam semesta dan menjangkau perkara gaib.
Pandangan ini menunjukkan corak pemikiran Muhammadiyah yang tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus terbuka pada rasionalitas pemikir seperti Ibnu Rusyd.
“Dari basis Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut, Muhammadiyah kemudian mengembangkan aspek akidah untuk kebutuhan bangunan keyakinan guna menopang gerakan Muhammadiyah,” ujarnya.
Menurut Agung, Muhammadiyah sebagai persyarikatan gerakan Islam memerlukan bangunan keyakinan yang kokoh sebagai landasan dalam mengemban misi dakwah. Karena itu, akidah di Muhammadiyah berkembang menjadi tauhid yang bersifat fungsional—tauhid yang menggerakkan amal.
Konsep inilah yang kemudian melahirkan berbagai praksis teologis, seperti Teologi Al-Ma’un, serta beragam bentuk aktualisasi sosial yang menempatkan manusia sebagai fokus implementasi nilai tauhid.
Dari pemahaman akidah tersebut, tumbuh etos dan karakter seperti integritas, kejujuran, keikhlasan, serta kerja keras sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Tauhid menumbuhkan kesadaran persaudaraan, baik sesama manusia maupun sesama makhluk.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Muhammadiyah juga menunjukkan sikap konstruktif terhadap pemerintah. Kritik, apabila diperlukan, hendaknya disampaikan secara santun, dialogis, dan dengan cara yang baik.
Agung mengingatkan bahwa kritik yang disampaikan dengan keras, kasar, dan mempermalukan justru akan menjauhkan dari substansi dakwah. Ia mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 159 tentang pentingnya kelembutan dalam berdakwah dan memimpin.
Terakhir, ia menyinggung corak tasawuf dalam Muhammadiyah yang diwujudkan melalui kerja keras, hidup sederhana, serta kedermawanan dalam membangun amal usaha.
“Di atas semua itu, pondasi tauhid Muhammadiyah dibangun. Tauhid fungsional yang dikembangkan Muhammadiyah adalah tauhid yang menopang bangunan gerakan Persyarikatan untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya













