Jakarta, panjimas — Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an yang diinisiasi Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) berhasil melampaui target secara signifikan. Hingga puncak kegiatan, jumlah khataman Al-Qur’an yang tercatat mencapai 373.976 kali, lebih dari tiga kali lipat dari target awal. Capaian ini menunjukkan kuatnya partisipasi penyuluh agama bersama masyarakat dalam menghidupkan tradisi tilawah Al-Qur’an di berbagai daerah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai gerakan khatmil Qur’an tidak hanya menjadi aktivitas ibadah kolektif, tetapi juga momentum spiritual untuk memperkuat doa dan harapan bagi kehidupan bangsa.
“Kami mengapresiasi penyelenggaraan khatmil Qur’an ini. Target yang direncanakan telah terlampaui hingga lebih dari tiga kali lipat. Ini menunjukkan semangat para penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat,” ujar Abu Rokhmad saat memberikan arahan pada puncak Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an IPARI, yang digelar secara virtual, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, khataman Al-Qur’an yang dilakukan secara serentak di berbagai wilayah menjadi simbol kuat hadirnya nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Selain sebagai ibadah, kegiatan tersebut juga menjadi doa kolektif agar bangsa Indonesia senantiasa diberi kedamaian dan keberkahan.
Abu Rokhmad mengungkapkan, peran penyuluh agama sangat strategis dalam menghadirkan bimbingan keagamaan yang menyejukkan. Penyuluh diharapkan tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam memahami dan mempraktikkan ajaran agama secara benar.
“Penyuluh itu seperti suluh atau lampu penerang. Dengan kehadiran Bapak dan Ibu, keadaan yang sebelumnya gelap menjadi terang, yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas. Karena itu penyuluh diharapkan menjadi penunjuk arah bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kinerja penyuluh agama yang terukur melalui berbagai program pembinaan keagamaan di masyarakat, mulai dari pengajaran baca tulis Al-Qur’an, pembinaan majelis taklim, hingga pendampingan praktik ibadah sehari-hari.
Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis Hanafi menyampaikan bahwa gerakan khatmil Qur’an ini merupakan ikhtiar spiritual kolektif para penyuluh agama dalam menyambut sepuluh hari terakhir Ramadan, yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar.
“Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an ini adalah ikhtiar spiritual kita bersama untuk menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat sekaligus memanjatkan doa keberkahan bagi umat dan bangsa,” ujar Muchlis Hanafi pada kegiatan yang sama.
Ia menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan pada hari ke-21 Ramadan sebagai momentum untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an sekaligus memperkuat kedekatan umat dengan kitab suci.
Muchlis menuturkan bahwa capaian 373.976 khatmil Qur’an tidak terlepas dari keterlibatan luas para penyuluh agama bersama masyarakat binaannya di berbagai daerah. Ia menyebutkan, jumlah penyuluh agama Islam di Indonesia saat ini mencapai sekitar 24.831 orang, yang terdiri atas 19.423 penyuluh PPPK, 1.369 CPNS, dan 4.034 PNS. Para penyuluh tersebut memiliki binaan majelis taklim, kelompok pengajian, dan komunitas masyarakat sehingga khataman Al-Qur’an dilakukan baik secara individu maupun secara kolektif.
Menurut Muchlis, khataman Al-Qur’an tidak hanya dimaknai sebagai selesainya bacaan Al-Qur’an, tetapi juga sebagai momentum membuka hati agar nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari. “Khataman Al-Qur’an bukan berarti setelah itu kita menutup mushaf. Justru ini adalah awal kita membuka hati agar nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupan kita,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam tradisi ulama, majelis khatmil Qur’an dikenal sebagai majelis yang dipenuhi rahmat, ketenangan, dan doa-doa yang diyakini mustajab. Karena itu, ia berharap gerakan ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat Indonesia
