BeritaKemenagKemenag, Haji, MUI, MuhammadiyahNasionalNews

Sambut Lailatul Qadar, Penyuluh Agama dan Masyarakat 373.976 Khataman Al-Qur’an

23

Jakarta, panjimas — Gelombang tilawah Al-Qur’an menggema di berbagai daerah di Indonesia di sepuluh malam terakhir Ramadan. Melalui Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an, para penyuluh agama Islam bersama masyarakat binaannya berhasil mencatat 373.976 khataman Al-Qur’an hingga puncak kegiatan pada 11 Maret 2026.

 

Gerakan yang digagas Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual Direktorat Penerangan Agama Islam Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama untuk menghidupkan kembali tradisi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an di tengah masyarakat, sekaligus menyambut datangnya malam Lailatul Qadar Ramadan 1447 H.

 

Khataman Al-Qur’an dilaksanakan secara mandiri maupun berjamaah oleh para penyuluh agama bersama masyarakat di berbagai tempat, mulai dari masjid, musala, majelis taklim, hingga komunitas masyarakat di berbagai daerah.

 

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis Muhammad Hanafi, menyampaikan apresiasi atas semangat para penyuluh agama yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat gerakan dakwah di bulan Ramadan. Menurutnya, gerakan khataman Al-Qur’an ini bukan sekadar kegiatan membaca, tetapi merupakan ikhtiar untuk menghadirkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.

 

“Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi cahaya yang menuntun manusia dalam menjalani kehidupan. Ketika Al-Qur’an dibaca dan dihidupkan di tengah masyarakat, maka sesungguhnya kita sedang menyalakan cahaya bagi bangsa,” ujarnya di Jakarta.

 

Ia menambahkan bahwa di tengah berbagai tantangan global—mulai dari ketegangan geopolitik hingga tekanan ekonomi yang berdampak pada kehidupan masyarakat—nilai-nilai Al-Qur’an sangat penting sebagai sumber ketenangan dan pedoman moral. “Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, Al-Qur’an memberikan orientasi nilai dan ketenangan spiritual. Karena itu, semakin besar tantangan zaman, semakin penting pula kita kembali mendekat kepada Al-Qur’an,” tambahnya.

 

Muchlis juga menegaskan bahwa para penyuluh agama memiliki peran strategis dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. “Penyuluh agama bukan hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi penyejuk di tengah masyarakat. Mereka menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari melalui pembinaan keagamaan, majelis taklim, dan berbagai aktivitas dakwah,” katanya.

 

Ia berharap gerakan khataman Al-Qur’an ini tidak berhenti pada momentum Ramadan saja, tetapi terus menjadi gerakan berkelanjutan untuk memperkuat literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat. Menurutnya, dalam tradisi Islam, khataman Al-Qur’an juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa-doa terbaik.

 

“Selain doa untuk kepentingan pribadi masing-masing, kita juga memohon kebaikan bagi bangsa dan negara, serta mendoakan para pemimpin agar diberi kekuatan dan kebijaksanaan dalam memimpin di tengah berbagai tantangan global,” ujarnya.

 

Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an ini mencapai puncaknya melalui pertemuan nasional secara daring yang diikuti penyuluh agama Islam dari seluruh provinsi di Indonesia, disertai pembacaan Al-Qur’an dan doa bersama bagi keselamatan bangsa serta kedamaian dunia. Saat ini, Direktorat Penerangan Agama Islam membina 24.831 penyuluh agama Islam yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jika Al-Qur’an hidup di tengah masyarakat, maka nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan persaudaraan akan semakin kuat dalam kehidupan bangsa,” pungkasnya.

Exit mobile version