Jakarta, panjimas- Momentum Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi pijakan strategis bagi warga persyarikatan Muhammadiyah di Sumatera Barat untuk mempererat barisan. Dalam nuansa silaturahmi pasca-hari raya, penguatan ideologi dan soliditas organisasi ditekankan sebagai kunci utama menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Pengajian Daerah dan Silaturahim Warga Muhammadiyah Kabupaten Lima Puluh Kota yang digelar di Masjid Al Ihsan Ampang Gadang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Ahad (29/3/2026).Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Buya H. Zaitul Ikhlas, M.Si., dalam tausiyahnya menegaskan bahwa merawat soliditas bukan sekadar menjaga agar tidak terjadi konflik, melainkan membangun rasa memiliki dan kepercayaan secara berkelanjutan.
“Soliditas yang kuat lahir dari kombinasi nilai, sistem, dan praktik keseharian. Idul Fitri 1447 H ini adalah momen paling tepat untuk menyatukan kembali visi dan nilai-nilai ideologi kita,” ujar Buya Zaitul di hadapan ratusan jamaah yang memadati masjid.
Beliau membedah delapan langkah strategis untuk merawat keutuhan persyarikatan. Mulai dari penguatan paham Islam Berkemajuan yang kontekstual, komunikasi inklusif melalui tradisi tabayyun, hingga transparansi dalam kepemimpinan. Menurutnya, ketidakadilan dan tertutupnya ruang dialog adalah sumber utama perpecahan.
“Orang bertahan di Muhammadiyah bukan hanya karena struktur organisasi, tetapi karena rasa kebersamaan. Kita harus bergeser dari mentalitas ‘siapa yang paling hebat’ menjadi ‘apa yang paling bermanfaat’,” tegas Buya Zaitul.
Respons Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari para pimpinan daerah di wilayah Luak Limopuluah. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Lima Puluh Kota, H. Yusmar Khalif, MA., selaku tuan rumah, menyatakan kesiapannya mengimplementasikan poin-poin tersebut hingga ke tingkat ranting.
“Pesan Buya Zaitul adalah pengingat bagi kami di daerah. Pasca-Idul Fitri ini, kami akan fokus pada aksi nyata yang menyentuh kesejahteraan warga, seperti penguatan ekonomi jamaah dan pemberdayaan amal usaha agar manfaat Muhammadiyah dirasakan langsung oleh masyarakat nagari,” ungkap H. Yusmar Khalif.
Senada dengan itu, Ketua PDM Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, menilai paparan tersebut sebagai kompas organisasi yang mencerahkan. Ia menyoroti pentingnya manajemen konflik yang dewasa dan kaderisasi yang tidak kaku.
“Paparan ini sangat relevan. Kita harus membuka ruang kreativitas bagi generasi muda agar mereka merasa dihargai dan loyal terhadap persyarikatan. Soliditas yang mencerahkan hanya bisa terwujud jika ada keseimbangan antara ideologi, ukhuwah, dan sistem organisasi yang adil,” tutur Dr. Irwandi.
Menuju Muhammadiyah Berkemajuan
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan Idul Fitri 1447 H sebagai titik tolak penguatan internal. Dengan sinergi antara PWM dan PDM, Muhammadiyah di Sumatera Barat diharapkan tetap menjadi kekuatan sosial yang solid, mandiri, dan konsisten dalam mendidik umat,dan mewujudkan Islam yang berkemajuan.













