BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Haedar Nashir Dorong Integrasi Nasional RS Muhammadiyah-’Aisyiyah untuk Layanan Lebih Luas

25

Surabaya, panjimas – Persyarikatan Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai organisasi dengan manajemen yang rapi. Etos ini harus dirawat dan diperkuat untuk mengkonsolidasikan melimpahnya potensi organisasi ini.

 

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Sabtu (18/4) di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Surabaya dalam agenda Halal Bihalal.

 

Dirinya mengapresiasi kesadaran di beberapa tempat untuk bergerak dan maju bersama-sama. Salah satunya dengan melakukan grouping Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA).

 

Selain itu, langkah konsolidatif yang diambil oleh PWM Jatim untuk mengembangkan jaringan RSMA di banyak daerah juga mendapat sorotan. Karena pelayanan dan kemanfaatan Muhammadiyah bisa dirasakan di banyak tempat oleh orang banyak.

 

PWM Jatim mendorong Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang memiliki Amal Usaha Muhammadiyah Kesehatan (AUMKes) maju bersedia memberikan pendampingan kepada PDM yang belum atau sedang merintis AUMKes.

 

“Alhamdulillah dalam praktik sudah mulai, PTMA, rumah sakit RSMA besar sudah mulai bantu. Sudah mulai ada bikin grouping, tapi harus lebih me-nasional,” katanya.

 

Haedar menekankan supaya direktur RSMA berani melepas kepentingan sepihak, untuk kepentingan persyarikatan yang lebih besar. Jika keberanian itu ada dirinya yakin jaringan RSMA akan memberikan dampak yang luar biasa bagi Indonesia.

 

Jaringan 130 RSMA, 23 Fakultas Kedokteran, 21 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) unggul, dan 16 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) harus dimaksimalkan untuk membangun ekosistem unggul dan maju.

 

“Semua orang itu kagum dengan Muhammadiyah, tapi kita masih belum sampai yang kita harapkan. Kuncinya di kemauan kita mensilaturahmikan seluruh sistem kita dalam satu sistem besar Muhammadiyah,” ungkapnya.

 

Mengonsolidasikan kemampuan dan potensi yang dimiliki ini membutuhkan pengorbanan yakni menghilangkan ego sektoral. Selain itu, konsolidasi ini merupakan bagian dari implementasi dari semangat silaturahmi.

 

Menurutnya, etos silaturahmi di tubuh umat Islam, lebih-lebih di internal Muhammadiyah sudah menjadi state of mind yang bagus. Akan tetapi masih belum maksimal pada tahap pelaksanaan.

 

RSMA Diharapkan Menggunakan Produk dari Internal Muhammadiyah

Tak lupa Haedar juga mendorong seluruh jaringan RSMA supaya memprioritaskan penggunaan produk infus yang diproduksi oleh internal Muhammadiyah, yang diproduksi oleh PT. Suryavena Farma Indonesia.

 

Saat ini PT. Suryavena Farma Indonesia yang dikelola oleh Muhammadiyah tengah mengembangkan diri, yakni dengan mendirikan pabrik di Mojokerto, Jawa Timur. Ke depan tidak hanya infus tapi juga akan memproduksi jarum suntik sampai kasa.

 

“Pabrik infus tidak akan berkembang, biarpun besok saya resmikan bersama Pak Muhadjir, bahkan mungkin ketua PWM datang, kalau nanti rumah sakit-rumah sakit tidak mau menggunakan hasilnya,” katanya.

 

Beralih ke produk milik persyarikatan membutuhkan keberanian, sebab saat ini tidak bisa dipungkiri beberapa RSMA sudah ada yang menggunakan produk dari lain tempat.

 

Sebagai informasi, pabrik infus yang dalam waktu dekat akan dibangun Muhammadiyah ini menggunakan teknologi dari Italia. Sehingga kualitasnya baik, dengan tetap memiliki pertimbangan harga yang bersaing.

 

Adanya pabrik infus ini sekaligus sebagai implementasi dari pilar ketiga Muhammadiyah, yakni ekonomi. Meski demikian, bisnis yang dijalankan Muhammadiyah mengedepankan kemaslahatan bukan keuntungan semata

Exit mobile version