BeritaKemenagNasionalNews

Untold Stories Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal

13

Jakarta, panjimas – Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) di Taman Mini Indonesia Indah tahun ini genap berusia 29 tahun, mendekati tiga dekade. Peringatan milad BQMI digelar secara sederhana pada 20 April 2026, dihadiri Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Hj. Helmi Halimatul Udhmah Nasaruddin Umar, Kepala BMB Pengembangan SDM Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, Kepala LPMQ Dr. Abdul Aziz Sidqi serta jajaran Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama. Tema peringatan ulang tahun BQMI kali ini ialah Transformasi Digital dan Inklusivitas.

Keberadaan BQMI sebagai museum religi membawa misi untuk mengedukasi masyarakat tentang Al-Qur’an dan khazanah kebudayaan Islam. Museum ini mengingatkan kita dengan kekayaan rohani bangsa Indonesia yang luar biasa. Kedatangan Islam di Nusantara membawa kecerdasan dan tamaddun (peradaban). Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia sejak berabad-abad silam telah memberi kontribusi besar dalam membentuk ciri khas budaya bangsa.

BQMI dibangun pada periode Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher dalam Kabinet Pembangunan VI. Pembangunan BQMI berawal dari gagasan dan peran Tarmizi Taher, seorang dokter sekaligus purnawirawan perwira tinggi TNI AL asal Sumatera Barat yang sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.

 

Gagasan pembangunan Bayt Al-Qur’an tercetus pada waktu Presiden Soeharto menerima hadiah mushaf Al-Qur’an terbesar dari Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, pada 1994. Ketika itu, Presiden yang didampingi Menteri Agama Tarmizi Taher, Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad, dan pengusaha nasional Pontjo Sutowo (Ketua Badan Pelaksana Festival Istiqlal 1991), sempat bertanya: di mana mushaf tersebut akan disimpan?

 

Tarmizi Taher spontan menjawab, “Akan disimpan di Bayt Al-Qur’an.”

 

Sejak saat itu, gagasan pembangunan Bayt Al-Qur’an mulai bergulir dan dimatangkan dengan dukungan dari Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Bahkan, Ibu Tien mewakafkan lahan seluas lebih dari dua hektar di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya di sebelah kanan pintu masuk utama TMII, sebagai lokasi pembangunan Bayt Al-Qur’an.

 

Dalam buku Tarmizi Taher: Jembatan Umat, Ulama, dan Umara (1998), Wakhudin mencatat bahwa Gedung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal yang berada dalam satu kompleks dengan TMII diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Ahad, 20 April 1997, bertepatan dengan HUT ke-22 TMII. Menariknya, menurut catatan tersebut, hingga saat itu hanya ada dua negara yang memiliki gedung semacam Bayt Al-Qur’an, yakni Bahrain dan Indonesia. BQMI berdiri di atas lahan seluas 2.315 meter persegi dengan bangunan empat lantai yang total luasnya mencapai 20.402 meter persegi. Arsitekturnya mencerminkan kecintaan bangsa Indonesia terhadap seni, budaya, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai keagamaan.

 

Gambar bangunan BQMI dirancang oleh Ir. H. Achmad Noe’man dengan biro arsitek PT. Birano Bandung. Achmad Noe’man (wafat 4 April 2016) dikenal sebagai arsitek legendaris “Seribu Masjid” yang juga merancang sejumlah masjid ikonik, seperti Masjid Salman ITB, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf Makassar, Masjid Al-Akbar Surabaya, Masjid Agung At-Tin TMII, hingga Masjid Istiqlal Indonesia (Masjid H.M. Soeharto) di Sarajevo Bosnia.

 

Sebagai Ketua Dewan Kurator pertama, Achmad Noe’man menjelaskan bahwa Bayt Al-Qur’an bukan sekadar tempat memamerkan mushaf dari berbagai daerah. Lebih dari itu, ia dirancang sebagai laboratorium penelitian dan pengembangan kajian Al-Qur’an. Inilah visi besar BQMI sejak awal berdiri yang perlu dikembangkan terus.

 

Gedung ini menyimpan beragam koleksi, mulai dari benda seni budaya religius tradisional, naskah dan manuskrip, arsitektur, kaligrafi, hingga karya seni kontemporer yang bernapaskan Islam.

 

Salah satu koleksi bersejarah yang dimiliki Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal adalah Al-Qur’an Mushaf Pusaka Republik Indonesia. Penulisan huruf pertamanya oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Peresmian pembuatan mushaf Al-Qur’an Pusaka dilakukan pada malam peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1367 H/23 Juli 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Penulisan huruf ba (awal Bismillah) oleh Bung Karno dan huruf mim terakhir oleh Bung Hatta pada kalimat Bismillahirrahmanirrahim surat Al-Fatihah.

 

Mushaf Al-Qur’an Pusaka berukuran 1 x 2 meter, terdiri dari 3 jilid, selesai disusun tahun 1960. Mushaf ini ditulis oleh H. Salim Fachri dan tim. Kendala yang dialami ialah ketidaklancaran pasokan kertas dan bahan-bahan penulisan di tengah situasi revolusi kemerdekaan. Bahan kertas pembuatan mushaf yang semula dipesan ke Singapura gagal masuk akibat Agresi Militer Belanda II, sehingga akhirnya diimpor dari Mesir tahun 1951.

 

Pada Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara tanggal 17 Ramadhan 1376 H/15 Maret 1960 dilakukan peresmian dan penyerahan mushaf Al-Qur’an Pusaka dari Menteri Agama K.H. Wahib Wahab kepada Presiden Soekarno. Setelah diresmikan, mushaf Al-Qur’an Pusaka disimpan di Masjid Baiturrahim Istana Negara dan sejak 1997 disimpan di Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal.

 

Koleksi mushaf Al-Qur’an Pusaka sebagai mushaf resmi pertama negara Republik Indonesia menjadi warisan bersejarah yang harus dijaga dari masa ke masa.  Al-Quran Pusaka sebagaimana disebut oleh Prof. Dr. Abu Bakar Atjeh merupakan mushaf imam atau rujukan dalam pencetakan mushaf-mushaf setelahnya, namun itu tidak pernah ditetapkan menjadi kebijakan. Di samping itu, BQMI juga menyimpan mushaf antik  dari beberapa daerah berusia lebih dari seratus tahun.

 

Koleksi lainnya di BQMI ialah Mushaf Al-Qur’an Istiqlal. Penamaan Mushaf Istiqlal mengabadikan momentum Festival Istiqlal dan karena pengerjaannya dilakukan di Masjid Istiqlal. Penulisan Mushaf Istiqlal berukuran 106 x 85 cm dimulai secara resmi dengan penulisan huruf ba pertama pada Bismillahirrahmanirahim tanggal 15 Oktober 1991 (7 Muharam 1412 H) bertepatan dengan pembukaan Festival Istiqlal I.

 

Mushaf Al-Qur’an Istiqlal sebagai sebuah karya unggulan master piece dikerjakan oleh ahli khat K.H. Faiz Abdurrazaq dan tim selama empat tahun. Mushaf ini diluncurkan kepada umat Islam Indonesia dan dunia pada pembukaan Festival Istiqlal II yang dibuka oleh Presiden Soeharto pada 23 September 1995 (27 Rabi’ul Akhir 1416 H) di Masjid Istiqlal dalam kaitan dengan peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka. Sebelumnya Presiden di Bina Graha secara resmi menerima laporan penyelesaian penulisan Mushaf Istiqlal yang akan dipamerkan pada Festival Istiqlal II dari Menteri Agama Tarmizi Taher, didampingi Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, Ketua Umum MUI K.H. Hasan Basri, Imam Besar Masjid Istiqlal K.H. Muchtar Natsir, Muhammad Quraish Shihab, Pontjo Sutowo, dan lain-lain. Mushaf Istiqlal telah ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama yang dipimpin oleh Drs. H. A. Hafizh Dasuki, MA, melalui 4 tahap pentashihan.

 

Ragam hias, seni kaligrafi dan seni batik pada Mushaf Istiqlal merepresentasikan 45 daerah budaya di Indonesia dari 27 provinsi saat itu. Pembuatan mushaf dengan hiasan dan ukirannya dibuat seteliti mungkin melibatkan 30-an seniman, dipimpin oleh Prof. A.D. Pirous (ketua tim iluminator) dari ITB yang melibatkan pada mahasiswa ITB. Dalam proses pembuatannya, seperti ditekankan oleh Menteri Agama Tarmizi Taher waktu itu, hiasan mushaf memiliki batasan, mengikuti kaidah Islam, yakni tidak menampilkan gambar manusia dan hewan. Bahkan, untuk menyelesaikan satu halaman, dibutuhkan waktu hingga 14 hari. Secara keseluruhan, Mushaf Istiqlal terdiri dari 970 halaman, mencakup 114 surah dalam 30 juz, disimpan dalam 3 peti masing-masing 10 juz.

 

Saat ini, Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal berada di bawah pengelolaan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an pada BMB dan Pengembangan SDM Kementerian Agama. Di masa lalu BQMI pernah di bawah pengelolaan Direktorat Penerangan Agama Islam. BQMI bukan sekadar tempat menghimpun, menyimpan, memelihara, dan memamerkan mushaf Al-Qur’an dari berbagai bentuk dan jenis.

 

Sesuai namanya, BQMI juga menjalankan fungsi kemuseuman yang mencakup konservasi warisan budaya, perpustakaan, ruang edukasi berbasis edutainment, sumber riset, ruang rekreasi serta mini teater. BQMI memperkuat identitas bangsa sekaligus memfasilitasi dialog sosial, seni dan budaya. Al-Qur’an sendiri menganjurkan kepada umat manusia untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama

Exit mobile version