Jakarta, panjimas — Muhammadiyah adalah salah satu ormas Islam yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah, termasuk Madrasah Muhammadiyah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, berkontribusi nyata dalam memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Hal ini disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Amin Suyitno saat memberi sambutan secara virtual pada Silaturahmi Madrasah Muhammadiyah. Acara ini diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Sinergi dan Kolaborasi untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah yang Unggul dan Berkemajuan”. Ikut bergabung, Pimpinan Majelis Dikdasmen tingkat Propinsi dan Kabupaten, kepala madrasah, guru, serta pengelola Madrasah Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
“Saya mengapresiasi kehadiran Madrasah Muhammadiyah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, telah memberikan kontribusi nyata dalam memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan nasional,” kata Amin Suyitno.
Ia berharap sinergi antara Kementerian Agama dan Muhammadiyah terus diperkuat untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas, inklusif, berkarakter, dan mampu menjawab berbagai tantangan masa depan. “Kolaborasi adalah kunci. Dengan semangat gotong royong dan sinergi yang kuat, kita dapat mewujudkan madrasah yang unggul, berkemajuan, serta mampu melahirkan generasi Indonesia yang beriman, berilmu, dan berdaya saing global,” katanya.
Silaturahmi Madrasah Muhammadiyah juga menghadirkan sejumlah nara sumber, antara lain Ferdiasnyah dari Komisi X DPR RI, Hidayat Nur Wahid dari Komisi VIII DPR RI, Marjiati Duta Madrasah Muhammadiyah dan Mhd. Lailan Arqom Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Amin Suyitno mengungkapkan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan data EMIS Kementerian Agama tahun 2026, terdapat 87.576 madrasah, 42.369 pondok pesantren, dan 932 perguruan tinggi keagamaan Islam yang melayani jutaan peserta didik di seluruh Indonesia. Jumlah peserta didik pendidikan Islam tercatat mencapai 18.033.393 orang, dengan dukungan 2.282.800 tenaga pendidik dan 135.885 tenaga kependidikan serta pengawas.
Menurut Suyitno, besarnya ekosistem pendidikan Islam tersebut menunjukkan bahwa madrasah dan pesantren merupakan kekuatan penting dalam pembangunan pendidikan nasional. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu bersama-sama menjaga kualitas, relevansi, dan daya saing lembaga pendidikan Islam agar mampu menjawab tantangan zaman.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, kata Suyitno, terus mendorong peningkatan mutu pendidikan agar madrasah mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Konsep “Pendidikan Berdampak” menjadi salah satu fokus utama pengembangan madrasah agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, keterampilan, dan daya saing yang kuat.
Kementerian Agama juga terus mengawal peningkatan mutu madrasah melalui program akreditasi. Hingga tahun 2025, sebanyak 56.197 madrasah telah terakreditasi dan ribuan madrasah lainnya terus didorong untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Amin Suyitno juga memperkenalkan kebijakan Kementerian Agama tentang Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi salah satu arus baru pendidikan Islam. Kurikulum ini bertujuan membentuk peserta didik yang humanis, nasionalis, toleran, peduli lingkungan, serta memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan. Ia menyatakan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas lima fondasi utama, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, serta cinta tanah air.
“Melalui pendekatan ini, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesehatan jiwa dan karakter yang kuat,” katanya.
Selain isu mutu dan akses pendidikan, Suyitno juga menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan guru madrasah. Kementerian Agama saat ini terus mengawal berbagai kebijakan terkait guru, termasuk pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) serta usulan pengangkatan guru madrasah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Menurutnya, guru merupakan aktor utama dalam transformasi pendidikan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan agar kualitas pendidikan madrasah semakin meningkat.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menyampaikan bahwa keberadaan Madrasah Muhammadiyah telah menjadi bagian penting dalam pembangunan pendidikan nasional. Dari Sabang sampai Merauke, Madrasah Muhammadiyah hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas kepada masyarakat.
Menurut Didik, Madrasah Muhammadiyah memiliki daya tarik tersendiri karena mampu memadukan pendidikan umum, pendidikan keislaman, serta pembentukan karakter peserta didik secara seimbang. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara Muhammadiyah dan pemerintah perlu terus ditingkatkan agar kualitas layanan pendidikan madrasah semakin berkembang.
“Madrasah Muhammadiyah telah menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak harus terus diperkuat agar madrasah semakin unggul dan berkemajuan,” ujar Didik.
Ia juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran para narasumber yang telah berkenan berbagi pengalaman, gagasan, serta inspirasi kepada para kepala madrasah dan guru Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
“Kami bersyukur atas kehadiran para narasumber yang telah berkenan hadir pada pagi hari ini untuk memberikan inspirasi kepada para guru dan kepala Madrasah Muhammadiyah. Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi demi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia,” tambahnya.
Didik juga menyampaikan bahwa kegiatan Silaturahmi Madrasah Muhammadiyah ini adalah langkah awal dari Majelis Dikdasmen Muhammadiyah PP Muhamadiyah bersama dengan Kementerian Agama dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas madrasah Muhammadiyah.
“Ke depan kita akan lanjutkan diskusi ini dengan Direktur KSKK dan Direktur GTK untuk bersama-sama dan bekerjasama membangun madrasah Muhammadiyah Berkemajuan, baik itu terkait dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Sertifiaksi Guru, Bantuan Sarana dan Prasana maupun kegiatan-kegiatan lain,” pungkasnya













