BeritaKemendikdasmenMendikdasmenMuhammadiyahNasionalNews

Abdul Mu’ti Dorong Deep Learning Serta Pendidikan Harus Membangun Cara Berpikir

16

YOGYAKARTA, panjimas – Di balik segala pembaruan kurikulum dan kebijakan Pendidikan yang silih berganti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti melihat satu akar masalah yang kerap luput dari perhatian, yaitu budaya.

 

Mendikdasmen itu menyampaikan pandangannya dalam siniar Lensamu di Muhammadiyah Channel yang dirilis pada Kamis (4/6). Baginya, selama cara pandang pelaku pendidikan belum berubah, sebagus apapun regulasi yang diterbitkan tidak akan banyak berarti.

 

“Problem kita sebenarnya dalam penyelenggaraan pendidikan itu adalah problem budaya. Regulasi itu mudah diubah, tetapi kalau mindsetnya tidak berubah, tentu perilakunya tidak berubah, kebudayaannya juga enggak berubah,” ujarnya.

 

Bagi Abdul Mu’ti, pendidikan pada hakikatnya bertujuan membangun peradaban, karakter, dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai dari pembangunan cara pandang _(worldview)_ yang kemudian diwujudkan dalam kebiasaan dan budaya belajar yang lebih baik.

 

Salah satu perubahan yang ia dorong adalah pergeseran dari _surface learning_ menuju _deep learning_ . Selama ini, kata Abdul Mu’ti, banyak proses belajar yang hanya berjalan di permukaan, siswa menghafal untuk ujian, lalu melupakan setelahnya.

Surface level processing itu belajar yang reproduktif. Tadi diajarkan begini, hafalkan, nanti keluar di ujian, itu _surface level processing_ , sudah selesai. Tapi kalau _deep learning_ itu melibatkan proses dia berpikir, ‘Loh, saya dulu pemahaman saya begini, kok ada begini?’, ada proses di situ,” jelasnya.

 

Menurutnya, _deep learning_ merupakan proses kognitif yang mendorong peserta didik untuk memperhatikan, memikirkan, membandingkan, dan memaknai pengetahuan yang diperoleh sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan peserta didik dan pendidik dalam memaknai proses belajar.

 

Abdul Mu’ti juga menyoroti satu jurang lama dalam dunia Pendidikan kita, yaitu pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, dikotomi itu tidak perlu dipertahankan. Keduanya justru bisa saling memperkuat Ketika dihadapkan pada persoalan nyata kehidupan.

 

Ia mencontohkan bahwa ilmu matematika dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat maupun pembagian waris, sehingga ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki nilai praktis dalam kehidupan. Pandangan ini, menurutnya, bukan hal baru. K.H. Ahmad Dahlan sudah lama mengajarkan hal serupa.

 

“Kalau orang mempelajari sesuatu dan tidak mengontekstualisasikan dengan realitas, ilmu menjadi tidak punya makna. Itu kan deep learning ala K.H. Ahmad Dahlan, langsung praktikal,” pungkasnya.

Pada akhirnya, yang Abdul Mu’ti bayangkan bukan sekadar sistem pendidikan yang lebih modern, melainkan generasi yang tahu mengapa mereka belajar, yang mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan, dan menjadikan pengetahuan sebagai bekal membangun peradaban

Exit mobile version