BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Arif Jamali Muis Tawarkan Gagasan Reformasi Pendidikan kepada Muhammadiyah

15

Yogyakarta, panjimas – Pengalaman bertahun-tahun di ruang kelas ternyata bisa menjadi bekal yang kuat untuk merumuskan kebijakan Pendidikan. Itulah inti gagasan yang hadir dalam peluncuran buku Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan: Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia karya Arif Jamali Muis, yang digelar di Ruang Amphiteater A Fakultas Kedokteran Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (6/6/26).

 

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang merekam perjalanan intelektual Arif selama lebih dari empat tahun. Berlatar belakang sebagai guru, aktivis Muhammadiyah, hingga kini menjabat sebagai Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif menyajikan refleksi atas berbagai persoalan Pendidikan yang ia temui langsung di lapangan maupun dalam proses perumusan kebijakan nasional.

 

Sebagian besar tulisan, menurutnya, lahir dari interaksi sehari-hari bersama siswa dan sesama guru, diperkaya dengan pembacaan berbagai literatur Pendidikan. Perspektif itu semakin matang Ketika ia mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam kebijakan pendidikan di tingkat nasional.

 

“Saya mencoba menghadirkan problem yang lebih objektif untuk kemudian bisa dinilai, baik ketika saya menjadi guru maupun ketika menjadi birokrat,” ujar Arif.

 

Rektor UAD, Muchlas, mengapresiasi buku ini karena dinilai berhasil menjembatani pengalaman praktis seorang pendidik dengan pemikiran kebijakan yang konkret. “Buku ini mencerminkan pengalaman-pengalaman Pak Arif yang kemudian dikoneksikan dengan pemikiran mengenai kebijakan pendidikan yang dapat didesain berdasarkan pengalaman tersebut,” katanya.

 

Kepala Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) UAD, Azaki Khoirudin, menambahkan bahwa peluncuran buku ini sejalan dengan komitmen lembaganya dalam mendorong kajian kebijakan publik yang berdampak nyata. Selama setahun terakhir, PSKP telah aktif menyelenggarakan seminar, workshop, pelatihan, dan penelitian kolaboratif di bidang kebijakan publik dan pendidikan.

 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan pentingnya budaya literasi dalam kehidupan intelektual. Menurutnya, menulis bukan sekadar kegiatan mencatat, melainkan sebuah proses berpikir yang serius dan penuh nilai.

 

“Proses menulis itu proses berpikir, karena itu adalah sebuah proses yang sangat mahal,” tegasnya.

 

Melalui buku ini, Arif berharap gagasan dan pengalamannya dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berarti bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Exit mobile version