BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Wamendikdasmen : Teknologi Tidak Boleh Tercerabut dari Nilai Kemanusiaan

13
×

Wamendikdasmen : Teknologi Tidak Boleh Tercerabut dari Nilai Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

DUMAI, panjimas – Di era kecerdasan buatan saat ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan aspek sains semata atau ilmu eksakta, tetapi juga harus diperkaya oleh pendekatan ilmu-ilmu sosial-humaniora yang sangat terkait erat dengan emosional, seni, kreativitas, inovasi, dan juga empati.

 

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq pada Rakerwil dan Rakorwil Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau yang dihelat di Dumai, Jum’at (5/6).

 

Fajar mengapresiasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau atas terselenggaranya Rakerwil dan Rakorwil ini yang mengangkat tema “Menuju Pendidikan Muhammadiyah Unggul, Berkarakter, dan Berkemajuan.”

 

Baginya, agenda ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, melainkan juga untuk menyinergikan kebijakan-kebijakan strategis Kemendikdasmen dalam membenahi kualitas pendidikan secara nasional.

 

Menurutnya, di antara ruh pendidikan kita itu adalah ilmu-ilmu sosial-humaniora. Memang kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, namun di saat yang bersamaan jangan sampai perkembangan teknologi itu tercerabut dari akar sosial atau akar kemanusiaannya.

 

“Kita berharap, teknologi yang berkembang itu teknologi yang punya nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai spiritual. Bukan teknologi yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual,” ujar Fajar.

 

Ketika membicarakan STEM, kata Fajar, hal tersebut sangat identik dengan Pembelajaran Mendalam yang digagas oleh Kemendikdasmen.

 

Ia mencontohkan, salah satu pendekatan yang menjadi inti dari Pembelajaran Mendalam adalah project base learning (pembelajaran berbasis proyek). Artinya, murid didorong untuk menginvestigasi suatu persoalan sekaligus memecahkan persoalan tersebut.

 

“Proses-proses pembelajaran kita di sekolah sudah harus mulai didorong ke arah sana. Sehingga, berbagai macam materi yang sifatnya hafalan atau deskriptif perlu diminimalisir,” tuturnya.

 

“Ilmu itu bukanlah semata-mata banyaknya riwayat, banyaknya informasi, banyaknya hafalan. Tetapi yang disebut dengan ilmu itu adalah wa lakinnahu nurun yaqdzifuhu Allahu fi al-qalbi (yang ditanamkan oleh Allah di hati manusia). Yang ditanam di hati, itu melalui proses refleksi, kontemplasi,” imbuhnya.

 

Ia menilai dalam proses Pembelajaran Mendalam sebenarnya yang diutamakan bukan kuantitas materi, tetapi kualitas pemahaman murid pada materi tertentu. Prosesnya apa? Memahami, melaksanakan, dan merefleksikan.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa secara teologis sebenarnya Al-Qur’an telah menegaskan umat manusia bahwasannya ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang masuk ke dalam hati dan menjadi cahaya. Untuk masuk ke dalam hati, proses yang mesti dilewati ialah dengan cara refleksi dan kontemplasi. Bukan semata repetisi, dihafal atau diulang.

 

“Salah satu ayat dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîni wa liyundzirû qaumahum. Dalam ayat tersebut disebutkan ‘liyatafaqqahû fid-dîn’. Artinya, bukan menghafal, melainkan memahami secara mendalam,” tegas Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

 

“Jadi, Al-Qur’an sejatinya telah mendorong manusia untuk mempelajari fenomena alam termasuk ilmu-ilmu agama berbasis tafaqquh fiddin. Dengan kata lain, hal ini selaras, sejalan, dan senapas dengan semangat Pembelajaran Mendalam,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *