BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Budaya Unggul Muhammadiyah Harus Terus Dirawat untuk Menjadi Penggerak Kemajuan

30

 

BANDUNG, panjimas — Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Biyanto, menegaskan pentingnya merawat tradisi unggul atau budaya unggul Muhammadiyah sebagai modal utama untuk menjaga eksistensi dan peran strategis persyarikatan di tengah dinamika dakwah dan perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikannya dalam kajian Gerakan Subuh Berjamaah yang diselenggarakan secara daring pada Senin (8/6/26).

Dalam pemaparannya, Biyanto mengawali dengan pertanyaan reflektif mengenai alasan Muhammadiyah harus terus maju dan berkemajuan. Menurutnya, terdapat tiga landasan utama yang menjadi dasar penting bagi warga Muhammadiyah untuk senantiasa mengembangkan budaya unggul, yaitu alasan ideologis, historis, dan sosiologis.

Dari sisi ideologis, Biyanto menjelaskan bahwa semangat keunggulan memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 148 tentang fastabiqul khairat yang mendorong umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjadi yang terbaik. Baginya, spirit tersebut sangat relevan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang selalu berupaya berada di garis depan dalam dakwah dan pelayanan umat.

“Kalau meminjam istilah Prof. Din Syamsuddin, why not the best? Mengapa tidak menjadi yang terbaik? Baik saja tidak cukup baik. Kita harus terus berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap bidang yang kita tekuni,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti konsep khaira ummah sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 110. Menurutnya, Muhammadiyah harus tampil sebagai umat terbaik melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Biyanto menegaskan bahwa sejarah tidak selalu digerakkan oleh kelompok mayoritas. Sebaliknya, sejarah sering kali digerakkan oleh kelompok-kelompok kecil yang memiliki kualitas, kreativitas, dan kemampuan berinovasi.

“Jadilah creative minority. Sejarah selalu digerakkan oleh kelompok minoritas yang unggul dan berkualitas,” katanya.

Ia mencontohkan Perang Badar sebagai pelajaran bahwa kelompok kecil yang memiliki loyalitas, komitmen, dan strategi yang baik mampu mengalahkan kelompok yang jauh lebih besar.

Warisan Sejarah Muhammadiyah

Biyanto menjelaskan bahwa budaya unggul Muhammadiyah juga lahir dari sejarah panjang persyarikatan sebagai pelopor gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah berhasil membangun reputasi sebagai organisasi yang identik dengan kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat yang terus mengalir kepada Muhammadiyah, termasuk dalam bentuk wakaf dan hibah aset, merupakan bukti nyata bahwa masyarakat melihat Muhammadiyah sebagai organisasi yang mampu mengelola amanah secara profesional dan berkemajuan.

“Orang tidak mungkin menyerahkan asetnya kepada Muhammadiyah kalau mereka tidak melihat tradisi unggul yang telah dirawat selama ini,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kepercayaan tersebut harus dijaga dengan kinerja yang semakin baik dan tidak boleh membuat warga Muhammadiyah merasa puas dengan pencapaian yang telah diraihnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Biyanto juga mengulas berbagai karakter unggul pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, sebagaimana dirumuskan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Karakter tersebut antara lain ningrat tetapi merakyat, kritis namun konstruktif, kaya tetapi bersahaja, alim tetapi tidak ekstrem, teguh pendirian tanpa kesombongan, serta taat beragama tanpa sikap radikal.

Menurut Biyanto, karakter-karakter tersebut merupakan manifestasi dari ideologi kemajuan yang harus terus diwariskan kepada generasi Muhammadiyah saat ini.

“Kiai Dahlan mengajarkan bahwa keunggulan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga soal akhlak, kesederhanaan, dan kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sembilan Tradisi Unggul Muhammadiyah

Lebih lanjut, Biyanto menguraikan sejumlah budaya unggul Muhammadiyah yang perlu terus dirawat dan dikembangkan.

Pertama, disiplin waktu. Ia menyebut disiplin sebagai salah satu identitas kuat Muhammadiyah yang terlihat dalam penyelenggaraan kegiatan, musyawarah organisasi, hingga tata kelola amal usaha.

Menurutnya, penghormatan terhadap waktu merupakan implementasi nyata dari pesan Surah Al-Asr yang selama berbulan-bulan dikaji secara mendalam oleh Kiai Dahlan.

Kedua, struktur organisasi yang tidak kaku dan tidak bertumpu pada kultus individu. Meski memiliki jenjang kepemimpinan, Muhammadiyah mengedepankan kesetaraan dan kerja kolektif.

Ketiga, semangat melayani masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang menjadi kekuatan utama Muhammadiyah sejak awal berdiri.

Keempat, kepemimpinan kolektif-kolegial yang mengedepankan musyawarah dan keterlibatan banyak pihak dalam pengambilan keputusan.

Kelima, kesederhanaan para pimpinan. Biyanto mencontohkan gaya hidup Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang tetap sederhana meskipun memimpin organisasi besar dengan aset yang sangat besar.

“Yang kaya itu organisasinya, bukan pimpinannya,” tegasnya.

Keenam, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Ia menilai Muhammadiyah merupakan organisasi amal yang menekankan kerja nyata dan aksi sosial.

Ketujuh, kemandirian organisasi, khususnya dalam bidang ekonomi. Menurutnya, Muhammadiyah perlu terus memperkuat gerakan ekonomi agar mampu menopang kemandirian dakwah dan pelayanan kepada masyarakat.

Kedelapan, komitmen terhadap pemberdayaan perempuan yang diwariskan oleh Siti Walidah melalui gerakan perempuan Muhammadiyah.

Kesembilan, semangat diaspora dan pengembangan sumber daya manusia. Biyanto mendorong generasi muda Muhammadiyah untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, baik di dalam maupun luar negeri, kemudian kembali mengabdi kepada persyarikatan.

Menjaga Keunggulan Muhammadiyah

Di akhir pemaparannya, Biyanto mengutip berbagai testimoni tokoh dan akademisi yang menilai Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam paling berhasil di dunia.

Ia menyebut pandangan akademisi Amerika Serikat, Robert W. Hefner, yang menilai Muhammadiyah sebagai model keberhasilan amal sosial dan keagamaan yang dapat menjadi rujukan dunia. Ia juga mengutip penilaian Nurcholish Madjid yang menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar dan paling mengesankan dari sisi kelembagaan.

 

Karena itu, Biyanto mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya unggul yang telah diwariskan para pendiri persyarikatan.

 

“Keunggulan Muhammadiyah tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui tradisi panjang disiplin, kerja keras, pelayanan, dan semangat berkemajuan. Tugas kita hari ini adalah merawat dan melanjutkan warisan tersebut agar Muhammadiyah tetap menjadi kekuatan yang mencerahkan umat dan bangsa,” pungkasnya

Exit mobile version