BeritaInspirasiNasionalNews

Pesan Penting WQCF : Jadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Utama dalam Kehidupan Berkeluarga

28
×

Pesan Penting WQCF : Jadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Utama dalam Kehidupan Berkeluarga

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Pendiri dan Ketua Umum World Quranic Civilization Forum (WQCF), Bachtiar Nasir, menegaskan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan keluarga. Pesan tersebut disampaikannya dalam gelaran World Quranic Civilization Forum (WQCF) 1448 H yang berlangsung di Exhibition Hall SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026), bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah.

Dalam kesempatan itu, Ustaz Bachtiar Nasir atau yang akrab disapa UBN menjelaskan bahwa WQCF dirancang sebagai forum tahunan berskala internasional yang menghadirkan para tokoh Al-Qur’an dari berbagai negara. Menurutnya, penyelenggaraan perdana ini merupakan langkah awal untuk membangun agenda peradaban Al-Qur’an yang lebih besar di masa mendatang.

“Ini baru permulaan dan kami menganggapnya sebagai pemicu. Persiapannya hanya sekitar dua pekan, tetapi setelah ini kami akan bekerja selama satu tahun penuh untuk menghadirkan forum yang lebih besar dan lebih berdampak,” ujarnya.

UBN mengatakan, ke depan WQCF akan mengundang lebih banyak tokoh formal maupun informal dari berbagai belahan dunia, termasuk kalangan akademisi, ulama, dan pemimpin lembaga pendidikan Islam internasional. Ia berharap forum tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang berlangsung lebih lama, bahkan hingga satu pekan.

“Tahun ini hanya satu hari. Ke depan kami berharap bisa berlangsung empat hari hingga satu pekan agar manfaatnya lebih terasa dan program-programnya dapat lebih komprehensif,” katanya.

Al-Qur’an dan Keluarga

Pada penyelenggaraan perdana ini, WQCF mengangkat tema “Establishing the Quran as the Operating System of Family” atau menjadikan Al-Qur’an sebagai sistem operasi keluarga.

Menurut UBN, tema tersebut dipilih karena keluarga merupakan benteng utama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari krisis kepemimpinan, perjudian daring, pinjaman online, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai bentuk degradasi moral akibat perkembangan teknologi dan media sosial.

Ia menilai bahwa upaya mengatasi persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada negara, melainkan membutuhkan peran aktif keluarga sebagai institusi paling mendasar dalam pembentukan karakter masyarakat.

“Kita harus mengaktifkan keluarga, khususnya para pemimpin keluarga. Karena itu kami membangun berbagai gerakan keluarga sebagai upaya memperkuat ketahanan moral bangsa,” ujarnya.

Sebagai bagian dari gerakan tersebut, UBN mengungkapkan bahwa dirinya telah membentuk sejumlah komunitas, antara lain Komunitas Bunda Hajar untuk para ibu dan Komunitas Ayah Ibrahim untuk para ayah yang berada di bawah payung The Ibrahim Family Academy.

Ia menegaskan bahwa inisiatif tersebut bukan sekadar kelas pengasuhan anak (parenting), melainkan gerakan kebangkitan keluarga yang bertujuan memperkuat ketahanan moral dan karakter masyarakat Indonesia.

Rekomendasi WQCF: Al-Qur’an sebagai Sistem Operasi Kehidupan

Dalam forum tersebut, UBN menyampaikan satu rekomendasi utama yang diharapkan menjadi pesan penting bagi umat Islam, yakni menjadikan Al-Qur’an sebagai “operating system” keluarga dan kehidupan.

Menurutnya, selama ini Al-Qur’an sering kali hanya menjadi bacaan atau simbol keagamaan, namun belum benar-benar diterapkan sebagai sistem yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

“Rekomendasi utama forum ini sederhana: jadikan Al-Qur’an sebagai operating system keluarga. Selama ini Al-Qur’an sering hanya berada pada tataran simbol, belum menjadi sistem operasional yang menggerakkan kehidupan,” jelasnya.

UBN menambahkan bahwa penerapan Al-Qur’an sebagai sistem kehidupan harus diawali dengan penguatan akidah dan tauhid, kemudian diikuti penerapan syariat Islam secara konsisten. Dari fondasi tersebut, menurutnya, akan lahir akhlak dan peradaban yang kuat.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an sebagai pedoman untuk membaca arah masa depan melalui hukum sebab-akibat atau sunnatullah yang dijelaskan dalam berbagai kisah dan pelajaran Al-Qur’an.

“Al-Qur’an bukan hanya menjadi operating system, tetapi juga dapat menjadi panduan untuk memahami pola-pola kehidupan. Dari sana kita bisa belajar mengantisipasi masa depan berdasarkan sunnatullah yang telah Allah jelaskan,” katanya.

Menutup keterangannya, UBN menyebut bahwa dua pesan utama WQCF 1448 H adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai sistem operasi kehidupan dan sebagai panduan memahami hukum-hukum Allah yang mengatur perjalanan individu, keluarga, maupun peradaban.

“Dua rekomendasi penting forum ini adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai operating system kehidupan dan sebagai panduan memahami sunnatullah dalam membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *