BeritaKemendikdasmenMendikdasmenMuhammadiyahNasionalNews

Wamendikdasmen Ungkap Menciptakan Bangsa Unggul dengan Persempit Kesenjangan Pendidikan

24
×

Wamendikdasmen Ungkap Menciptakan Bangsa Unggul dengan Persempit Kesenjangan Pendidikan

Sebarkan artikel ini

LAMONGAN, panjimas – Visi besar dunia pendidikan Indonesia untuk menciptakan manusia yang unggul bisa dicapai jika kesenjangan mutu, kualitas dan akses pendidikan dipersempit.

Hal itu disampaikan Wamendikdasmen RI, sekaligus Ketua Lembaga Kajian dan Kerja Sama Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fajar Riza Ul Haq di Lamongan dalam Dialog Pendidikan Masa Depan di Kantor PDM Lamongan pada Ahad (14/6).

Mengusung tema “Mencari Ekuilibrium Implementasi Kebijakan Pendidikan Nasional”, forum tersebut menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk membicarakan tantangan pendidikan nasional di tengah cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.

“Persoalan pendidikan hari ini sesungguhnya bukan kekurangan gagasan. Tantangan terbesar kita adalah menghadirkan kebijakan yang benar-benar terasa manfaatnya di sekolah, di ruang kelas, dan dalam kehidupan murid,” ujar Fajar.

Menurutnya, Indonesia memiliki visi besar membangun sumber daya manusia unggul. Namun visi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kesenjangan mutu pendidikan, kualitas pembelajaran, dan akses pendidikan antarwilayah terus dipersempit.

Karena itu, implementasi kebijakan memerlukan dialog yang sehat, evaluasi yang berkelanjutan, dan keterlibatan publik yang luas. Pemerintah, kata Fajar, tidak mungkin bekerja sendirian dalam memajukan pendidikan nasional.

“Pendidikan adalah investasi peradaban. Negara boleh berganti pemerintahan, tetapi komitmen terhadap pendidikan harus tetap menjadi konsensus kebangsaan,” katanya.

Fajar menegaskan bahwa sekolah pada hakikatnya bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, melainkan ruang tumbuh yang membentuk watak dan masa depan bangsa.

Pendidikan Cakap Digital dan Bangun Karakter Mulia
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital, pendidikan dituntut tidak hanya menghasilkan generasi yang cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

“Di era kecerdasan buatan, justru nilai-nilai kemanusiaan menjadi semakin penting: integritas, empati, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Pendidikan harus melahirkan manusia Indonesia yang cerdas sekaligus berkarakter,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Fajar memberikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang selama lebih dari satu abad konsisten memajukan pendidikan melalui ribuan sekolah dan perguruan tinggi di berbagai daerah.

Menurutnya, pengalaman Muhammadiyah menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya lahir dari kebijakan negara, tetapi juga dari inisiatif masyarakat yang memiliki visi kemajuan.

“Apa yang dilakukan Muhammadiyah membuktikan bahwa pendidikan adalah gerakan sosial. Kemajuan pendidikan lahir ketika negara dan masyarakat berjalan bersama. Inilah semangat partisipasi semesta yang terus kita dorong dalam pembangunan pendidikan nasional,” katanya.

Fajar juga menyoroti pentingnya ruang dialog dalam demokrasi. Kritik yang berbasis data dan bertujuan memperbaiki kebijakan, menurutnya, merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan yang sehat.

Dalam konteks itulah media memiliki peran strategis. Di tengah banjir informasi dan disinformasi, media tidak cukup hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun literasi publik dan menjaga kualitas percakapan kebangsaan.

“Pendidikan membentuk cara berpikir generasi muda, sementara media membentuk cara berpikir masyarakat luas. Ketika pendidikan dan media berjalan beriringan, kualitas demokrasi dan kualitas kebangsaan akan semakin kuat,” ujar Fajar.

Fajar menegaskan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan dukungan seluruh ekosistem: pemerintah, sekolah, keluarga, organisasi masyarakat, dan media. Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan: guru-guru yang berdedikasi, organisasi masyarakat yang aktif, media yang kritis, serta generasi muda yang kreatif.

“Sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa kemajuan selalu lahir dari kemampuan untuk bekerja sama melampaui perbedaan. Karena itu, masa depan pendidikan Indonesia hanya dapat dibangun melalui kolaborasi,” katanya.

Wamen Fajar juga menegaskan mengenai arah kebijakan transformasi pendidikan yang tengah dijalankan pemerintah sejalan dengan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, khususnya melalui percepatan revitalisasi sarana-prasarana dan digitalisasi pendidikan.

Menurutnya, pembangunan sekolah tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mampu menjawab tantangan abad ke-21. Upaya ini penting untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan yang bermutu tanpa memandang wilayah tempat tinggalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *