BeritaMUINasionalNews

Sekjen MUI : Mendidik Anak Yatim untuk Manjadi Pemimpin Peradaban Dunia

15
×

Sekjen MUI : Mendidik Anak Yatim untuk Manjadi Pemimpin Peradaban Dunia

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Rasulullah SAW telah terbukti sebagai teladan dalam membangun pradaban di dunia. Ia tumbuh dari keluarga anak yatim yang mandiri, menjadikan pengalaman masa lalunya sebagai bukti memimpin pradaban.

Hal ini si sampaikan Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan dalam tausiyah rangka syukuran dan santunan anak yatim di kediaman Dr. Misbah Fikrianto, MM, M.Si, M.Pd di daerah Pondok Gede. Saat saat ini Dr Misbah adalah sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta.

Buya Amirsyah juga menyampaikan bahwa Allah SWT menegaskan dalam Qur’an Surat Ad-Dhuha Ayat 6:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Artinya: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Rasulullah SAW menjadi pemimpin yang mashur di dunia yang sangat adil, mengayomi, dan visioner, serta merevolusi peradaban dari jahiliyah kepada pradaban yang penuh dengan nilai kasih sayang.

Kisah dan teladan kepemimpinan Rasulullah yang berawal dari anak yatim, terus menanamkan; pertama, rasa empati tanpa batas, karena merasakan perihnya kehilangan sosok ayah sejak kecil, beliau sangat peduli terhadap kaum lemah, janda, dan anak-anak yatim.

Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam; kedua, kejujuran dan Integritas (al-Amin). Sejak muda, beliau dikenal sebagai pribadi yang terpercaya. Karakter ini membuat beliau sangat dihormati dan menjadi fondasi utama kepercayaan umat saat memimpin; ketiga, kesederhanaan dan merakyat. Meskipun menjadi pemimpin negara yang disegani, beliau tidak hidup bermewah-mewahan.

Beliau hidup berdampingan dengan rakyatnya dan merasakan penderitaan mereka; keempat, keadilan sosial. Di mana beliau menghapus sistem kasta dan rasisme, karena dalam risalah Islam menegaskan bahwa semua orang memiliki kedudukan yang setara, baik bangsawan maupun rakyat biasa.

Panggilan akrab buya Amirsyah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa anak yatim mendapat perhatian yang sangat besar dan disebutkan sekitar 23 kali dalam berbagai konteks. Intinya, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menyantuni, melindungi hak-hak mereka, dan melarang keras berbuat sewenang-wenang maupun memakan harta mereka secara zalim.

Pokok utama pesan Al-Qur’an terkait anak yatim meliputi: Larangan Menghardik dan Berbuat Kasar, karena Allah SWT melarang keras menindas atau berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ad-Duha ayat 9:

فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ ۝٩

Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

Ancaman memakan harta Yatim di peringatkan Allah SWT dengan keras bahwa orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sama saja dengan menelan api neraka ke dalam perutnya (Surah An-Nisa ayat 10).

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًاۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًاࣖ ۝١٠

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Kewajiban Memuliakan dan Memberi Makan: Menyantuni dan berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu indikator keimanan dan bentuk ketaatan tertinggi yang sering disejajarkan dengan perintah beribadah kepada Allah. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya menjaga hak, harta, serta masa depan mereka agar tumbuh menjadi individu yang terlindungi dan mendapatkan kasih sayang yang layak.

Menyiapkan Pemimpin Dunia Berkarakter

Dunia saat ini sangat membutuhkan pemimpin berkarakter agar memiliki integritas, empati dalam mengambil dan menjalankan keputusan. Pemimpin yang cerdas, juga seorang kepemimpinan yang kuat untuk membangun kepercayaan, menjaga persatuan, dan menyelesaikan berbagai tantangan global yang berkomunikasi secara transparan dan membangun visi yang jauh ke depan, berani mendobrak status quo, berorientasi pada kesejahteraan, jangka panjang, dan siap mengambil keputusan sulit demi kebaikan bersama.

Ketangguhan (resilience) dalam menghadapi ancaman, gangguang, hambatan dan tantangan (AGHT) dalam menghadapi krisis atau tekanan, serta tetap tenang dalam menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *