BeritaInternasionalNasionalNews

Di Forum SAJID, Dubes Iran Tegaskan Nuklir untuk Perang Bertentangan dengan Islam

14

JAKARTA, panjimas — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa penggunaan senjata nuklir untuk kepentingan perang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Hal itu disampaikannya dalam forum Friday Morning Talk yang diselenggarakan SAJID (Serikat Jurnalis Islam Indonesia) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).

 

Diskusi yang dipandu Ketua Umum SAJID, Bachtiar Nasir, tersebut dihadiri para wartawan dari berbagai media cetak, media elektronik, dan media siber. Forum itu menjadi ruang dialog antara kalangan jurnalis dengan perwakilan diplomatik Iran mengenai perkembangan isu-isu geopolitik dan hubungan internasional.

 

Boroujerdi mengatakan, sikap Iran terhadap senjata nuklir tidak hanya didasarkan pada pertimbangan politik dan keamanan, tetapi juga berangkat dari landasan etika dan ajaran agama.

“Fatwa Iran dari almarhum Khomeini selaku pemimpin tertinggi menyatakan bahwa nuklir adalah haram jika digunakan untuk perang,” ujar Boroujerdi.

 

Menurut dia, perkembangan teknologi, termasuk teknologi nuklir, harus ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab moral serta kemanusiaan. Karena itu, pemanfaatan ilmu pengetahuan semestinya diarahkan untuk kesejahteraan umat manusia, bukan sebagai instrumen penghancuran massal.

 

Boroujerdi juga menyoroti operasi militer Amerika Serikat yang menurutnya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menilai klaim bahwa serangan tersebut hanya menyasar target militer tidak sejalan dengan kondisi di lapangan karena, menurutnya, warga sipil turut menjadi korban.

 

Mengenai hubungan dengan negara-negara di kawasan, Boroujerdi menegaskan Iran tidak pernah menyerang negara tetangganya. Ia mengatakan operasi militer Iran hanya ditujukan kepada fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di wilayah negara tetangga, bukan kepada negara tersebut.

 

Dalam kesempatan itu, Boroujerdi menyatakan Iran pada prinsipnya tetap membuka ruang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Menurut dia, perundingan damai sebelumnya dilakukan atas permintaan Amerika Serikat sehingga Iran memiliki hak untuk mengajukan kepentingan-kepentingannya dalam setiap proses negosiasi.

 

Boroujerdi juga menyampaikan pandangannya mengenai Indonesia. Ia mengklaim Israel telah melakukan tindakan yang berdampak terhadap Indonesia, antara lain melalui serangan terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza, penurunan bendera Indonesia yang kemudian diganti dengan bendera Israel, serta tewasnya sejumlah personel pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di Lebanon.

 

Menurut Boroujerdi, nilai-nilai agama dapat menjadi pijakan dalam membangun diplomasi yang mendorong perdamaian dan stabilitas internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

 

Ia juga menyinggung pentingnya persatuan negara-negara Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan internasional. Menurutnya, dialog dan saling memahami merupakan langkah penting agar dunia Islam tidak mudah terpecah oleh konflik yang berkepanjangan.*

Exit mobile version