BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Terus Perkuat Pilar Ekonomi demi Dakwah Berkelanjutan

7
×

Muhammadiyah Terus Perkuat Pilar Ekonomi demi Dakwah Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, panjimas – Tahun ini Muhammadiyah sudah berusia 114 tahun, selama ini dakwah Muhammadiyah ditopang oleh dua sumber pendanaan yakni filantropi dan pengelolaan potensi yang dimiliki Persyarikatan.

Hal itu diungkap Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief pada Jum’at malam (26/6) dalam Pengajian PP Muhammadiyah “Resiliensi Keuangan untuk Dakwah Berkelanjutan di Kantor Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta.

Menurut Hilman, sumber pendanaan yang menopang dakwah Muhammadiyah pada masa mendatang harus diperkuat dan diperbanyak. Maka yang harus didorong adalah penguatan pilar ekonomi dan bisnis.

“Kita belum punya perusahaan-perusahaan dan bisnis yang mapan betul, pabrik yang bisa menyuplai kebutuhan warganya, baik untuk rumah sakitnya, untuk perguruan tinggi, ataupun kehidupan rumah tangga,” katanya.

Saat ini, sambungnya, Persyarikatan Muhammadiyah sedang menata kekuatan ekonomi dan bisnis untuk bisa menyuplai segala kebutuhan untuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) maupun kehidupan keluarga Muhammadiyah.

Semangat tersebut disambut baik oleh warga Persyarikatan, di banyak daerah maupun wilayah Muhammadiyah, telah banyak inisiatif-inisiatif untuk membangun ekonomi dan bisnis berbasis sociopreneur.

Hilman berharap semangat tersebut terus bertahan dan berkembang. Sebab menurutnya, membangun pilar ekonomi dan bisnis ini tidak tidak bisa dielakkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Terlebih saat ini, banyak konglomerat yang mulai mengembangkan sayap-sayap bisnis di bidang yang selama ini menjadi medan dakwah Muhammadiyah– mereka mulai mendirikan rumah sakit, sekolah, sampai perguruan tinggi.

Perlu Perspektif Baru untuk Memproyeksikan Manajemen Keuangan

Muhammadiyah oleh beberapa pihak disebut sebagai ormas keagamaan terkaya no empat di dunia. Meski data tersebut belum bisa diverifikasi kebenarannya, namun Hilman menyebut, itu menjadi pekerjaan rumah bagi Muhammadiyah untuk mengkalkulasi asetnya.

Pelan-pelan pekerjaan rumah itu digarap, dimulai dengan penguatan regulasi di berbagai bidang, termasuk rumah sakit, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Namun bagaikan buah simalakama, sebab rata-rata AUM berdiri tahun 1970-an yang tentu regulasi saat itu berbeda dengan masa sekarang. Sampai-sampai Hilman berkelakar, jika mengikuti biaya cukup mahal, namun jika tidak AUM itu akan ketinggalan zaman.

Oleh karena itu setelah penguatan regulasi, pada 10 sampai 20 tahun ini Muhammadiyah terlihat begitu ekspansif– banyak melakukan dan membangun hal-hal baru, yang itu diproyeksikan untuk 100 tahun ke depan.

Hilman mengajak, sebagai ormas Islam yang memiliki cita-cita besar, maka tentu Muhammadiyah membutuhkan pengetahuan atau perspektif baru untuk melihat masa kini sebagai pondasi menyongsong masa depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *